Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Minat MBR Beli Rumah Rontok Akibat Terhantam Pandemi Covid-19

Minat masyarakat berpenghasilan rendah untuk membeli rumah pada masa pandemi Covid-19 dapat dikatakan sangat minim. Hal itu disebabkan mereka memikirkan kebutuhan yang lebih mendasar termsuk mempertimbangkan ancaman PHK.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 21 September 2020  |  20:42 WIB
Ilustrasi kompleks perumahan bersubsidi./Antara - Irwansyah Putra
Ilustrasi kompleks perumahan bersubsidi./Antara - Irwansyah Putra

Bisnis.com, JAKARTA – Di tengah pandemi Covid-19, minat konsumen untuk membeli rumah segmen Rp500 juta hingga Rp1 miliar masih ada, tetapi untuk segmen masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sedikit.

CEO Indonesia Property Watch Ali Tranghanda mengatakan saat ini daya beli rumah yang masih ada yakni golongan menengah hingga menengah atas.

"Saat ini golongan MBR paling terdampak daya belinya," ujarnya kepada Bisnis pada Senin (21/9/2020).

Oleh karena itu, diperlukan stimulus untuk segmen Rp500 juta hingga Rp1 miliar. Dia menilai apabila relaksasi diberikan ke segmen MBR, tidak akan berdampak pada penjualan.

Hal itu, lanjutnya, untuk segmen MBR, perilaku untuk beli rumah bukan prioritas, apalagi sebagian besar karyawan atau buruh yang khawatir isu pemutusan hubungan kerja dan lain-lian.

"Kalau ada data pertumbuhan KPR FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) yang naik saat ini, lebih dikarenakan kuota dari hasil penjualan yang lalu," paparnya.

Ali menilai naiknya data KPR FLPP bukan menggambarkan permintaan secara jelas. Menurutnya, kenaikan yang terjadi itu lebih karena banyaknya pengajuan yang baru disetujui.

Pasalnya, untuk permintaan baru saat ini relatif yang paling tertekan justru di segmen MBR, karena banyak MBR yang daya beli sangat terdampak.

"Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP) menyebut kondisi pandemi tidak terlalu berpengaruh terhadap penyaluran dana FLPP. Per Kamis (17/9) penyalurannya sudah mencapai 89.256 unit atau 87,08 persen dari target tahun ini," tutur Ali.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Pengembangan Perumahan & Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Daniel Djumali menuturkan higga kuartal 2 tahun ini, penjualan rumah rata-rata turun 30 persen hingga 40 persen bagi penjualan rumah menengah bawah atau bersubsidi.

Dia menilai pengembang harus selalu berinovasi, membangun perumahan berkualitas dengan lingkungan yang nyaman dan asri untuk menarik konsumen. "Ini agar perusahaan tetap aman, perusahaan harus selalu menjaga arus kasbank/cashflow perusahaan."

Menurutnya, sedikitnya minat untuk membeli rumah MBR karena terlalu banyaknya persyaratan dan aturan bagi masyarakat konsumen menengah bawah dan MBR memperoleh rumah khususnya KPR subsidi.

Dia mengutarakan terdapat sedikitnya 29 data/formulir/surat keterangan yang harus dipenjuhi MBR memperoleh rumah atau KPR bersubsidi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti perumahan perumahan sederhana
Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top