Aplikasi Projek Targetkan Penjualan Properti Rp10 Triliun

Aplikasi penjualan hunian daring pertama di Indonesia Projek menargetkan penjualan lewat aplikasi mencapai Rp10 triliun meskipun baru saja melantai ke pasar properti.
Mutiara Nabila | 14 Februari 2019 18:59 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Aplikasi penjualan hunian daring pertama di Indonesia Projek menargetkan penjualan lewat aplikasi mencapai Rp10 triliun meskipun baru saja melantai ke pasar properti.

Founder Projek Andy Natanael mengatakan bahwa pihaknya optimistis tahun ini bisa mencapai penjualan hingga Rp10 triliun karena penjualannya diharapkan dapat mencakup ke seluruh Indonesia.

Adapun, sudah ada beberapa pengembang besar yang akan ikut berpartisipasi menyediakan produk untuk dijual melalui Projek seperti dari Intiland, Ciputra, Pikko, Harapan Indah, dan beberapa pengembang lainnya.

“Developer lain nanti tetap bisa ikut, tapi nanti kita baru akan buka lagi kerannya tunggu persetujuan dengan CIMB Niaga sebagai penyedia KPR, pengembangnya harus bekerja sama dengan CIMB Niaga dan saat ini yang kami jual adalah produk yang sudah ready stock karena menjadi suatu kepastian, dan keuntungannya kalau beli di PROJEK dibandingkan dengan di pengembang adalah harganya yang bisa di bawah rumah seken tapi barangnya fresh,” ungkapnya dalam acara MOU Projek dengan CIMB Niaga di Jakarta, Kamis (14/2).

Adapun, keharusan penyediaan produk yang ready stock juga sebagai upaya untuk meningkatkan kepercayaan pembeli sehingga tidak ada risiko pembangunan mangkrak.

“Takutnya kan orang sudah KPR ternyata sama pengembang nggak dibangun. Namun, untuk developer yang besar, walaupun belum ready stock tapi minimal sudah topping off itu kita mau. Kita juga mau ada percepatan supaya konsumen bisa langsung huni,” imbuhnya.

Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda mengatakan bahwa gebrakan baru dari Projek ini memang dibutuhkan pasar.

“Pengembang tidak bisa memasarkan dengan harga yang ada saat ini, yang ada biar bagaimana strategi pengembang supaya mengolahnya bagaimana caranya supaya biaya yang dikeluarkan sama pembeli nanti bisa lebih hemat dan menarik. Itu yang dibutuhkan,” katanya.

Ali melanjutkan, jika ada yang mengatakan bahwa harga properti di Rp1 miliar itu susah dijual, itu salah. Pasalnya sektor tersebut saja dalam data masih mencatatkan pertumbuhan.

“Memasuki tahun pilpres kan memang biasanya begitu, jadi dinamika saja. Nanti akan naik lagi, karena semua kembali lagi akan bergantung pada ekonomi, yang juga akan dipengaruhi oleh politik seperti apa, ada sedikit kekhawatiran di pilpres di tahun politik itu wajar,” imbuh Ali.

Ke depan, Projek akan menerima tawaran proyek hunian dari seluruh kelas dan akan dikembangkan di seluruh Indonesia.

“Jadi nanti kita mau cross area, orang Papua bisa beli di Jakarta, orang Jakarta bisa beli di Medan, dan lain sebagainya. Kami didukung oleh broker dan akan berbicara lebih intens lagi kepada ketua AREBI untuk bisa menjangkau semua,” ungkap Andy.

Secara keseluruhan, mitra Projek, PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) mengungkapkan hanya menaruh target penjualan dari Projek sebesar Rp4 – Rp5 triliun saja.

“Kalau saya target inginnya sebesar mungkin, tapi ini kan tren baru, saya pikir saya ngga minta besar-besar amat. Tapi kalau saya lihat kerja sama ini sangat positif, mudah-mudahan ke depan bisa menambah pemasukan lebih besar untuk KPR kami,” ungkap Heintje Mogi, Mortgage and Indirect Auto Business Head CIMB Niaga.

Menurut Heintje, kerja sama itu harus ditingkatkan sehingga ke depan, bank dan pengembang bisa cross selling.

“Jadi kalau target saya belum bisa pastikan sekarang, karena untuk proyek baru itu biasanya baru akan kelihatan 6 bulan - 1 tahun ke depan. Kalau bisa lebih ya sebesar mungkin,” tambahnya.

Tag : jual beli rumah online
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top