Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Daya Beli Masyarakat Lemah, Gapmmi Bicara Nasib Penjualan Mamin

Gapmmi bicara soal nasib penjualan industri makanan dan minuman seiring dengan daya beli masyarakat yang lemah.
Salah satu fasilitas produksi industri makanan. Istimewa/ Kemenperin
Salah satu fasilitas produksi industri makanan. Istimewa/ Kemenperin

Bisnis.com, JAKARTA - Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi) meyakini konsumsi masyarakat akan kembali meningkat sepanjang Ramadan 2024, meskipun terjadi penurunan pengeluaran konsumsi pada Februari.

Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 123,1 poin Februari 2024. Nilai tersebut lebih rendah 1,52% dibandingkan pada bulan sebelumnya (month-to-month/m-to-m) yang sebesar 125 poin.

Ketua Umum Gapmmi Adhi S. Lukman mengatakan lemahnya daya beli masyarakat berdampak pada prioritas belanja yang tertuju pada produk primer seperti beras, telur, daging, bukan produk olahan.

"Kenaikan harga pangan segar dan pokok menekan daya beli pangan sekunder dan olahan, khususnya konsumen terutama kelas bahwa yang memprioritaskan pangan pokok," kata Adhi, Rabu (13/3/2024).

Namun, memasuki bulan puasa, permintaan terhadap produk olahan diyakini mulai meningkat lantaran kuatnya tradisi konsumsi makanan dan minuman ringan menjelang buka puasa.

Dia berharap sentimen positif dari kondisi pasar dapat terjaga hingga lebaran. Pasalnya, industri mamin sempat tersendat dikarenakan tahun pemilu yang memhuat para retailer menahan belanja.

"Namun setelah pemilu sudah membaik. Semoga bisa terus sampai lebaran," tuturnya.

Sebelumnya, Gapmmi memproyeksi peningkatan permintaan dapat mencapai 30% pada Ramadan 2024. Pesanan dari ritel untuk produk makanan dan minuman telah meningkat sebulan sebelumnya.

Ditemui pada kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal, mengungkap bahwa industri makanan minuman masih akan menemui tantangan dalam pertumbuhan usahanya.

Sebab, penurunan daya beli masyarakat masih terjadi sehingga konsumen semakin selektif terhadap pos pengeluaran.

"Untuk itu, diharapkan peran pemerintah dan pengambil kebijakan dalam menentukan nasib industri minuman ringan yang menyerap banyak tenaga kerja ini," ujar Faisal.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper