Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Sederet Dampak Pembuangan Limbah Nuklir PLTN Fukushima oleh Jepang

Pembuangan air limbah PLTN Fukushima oleh Jepang memicu reaksi dari berbagai pihak, mulai dari intimidasi hingga larangan impor makanan laut dari China.
Para pengunjuk rasa memegang tanda bertuliskan Jangan membuang air yang terkontaminasi radiasi ke laut, selama unjuk rasa menentang pembuangan air radioaktif yang telah diolah dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi yang lumpuh akibat tsunami ke laut, di depan kediaman resmi Perdana Menteri Fumio Kishida. di Tokyo, Jepang, 25 Agustus 2023. REUTERS/Kim Kyung-Hoon
Para pengunjuk rasa memegang tanda bertuliskan Jangan membuang air yang terkontaminasi radiasi ke laut, selama unjuk rasa menentang pembuangan air radioaktif yang telah diolah dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi yang lumpuh akibat tsunami ke laut, di depan kediaman resmi Perdana Menteri Fumio Kishida. di Tokyo, Jepang, 25 Agustus 2023. REUTERS/Kim Kyung-Hoon

Bisnis.com, JAKARTA – Pembuangan air olahan limbah radioaktif dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi menuai beragam kecaman dan aksi protes. Pemerintah Jepang terus mendapat tekanan dari sejumlah negara di Asia Pasifik atas rencananya tersebut.

Namun, Jepang tetap ngotot dengan rencana pembuangan air limbah ini. Terlebih, PBB melalui Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) telah memberikan lampu hijau, dengan menyatakan bahwa rencana pelepasan air limbah telah sesuai dengan standar keamanan global.

Menurut hasil tes Tokyo Electric Power Co. (Tepco) yang mengoperasikan pembangkit listrik tersebut, air limbah itu mengandung sekitar 63 becquerel tritium per liter, jauh di bawah batas air layak minum dari WHO yaitu 10.000 becquerel per liter. Becquerel adalah satuan radioaktivitas.

Dalam pengujian setelah pelepasan air pertama pada Kamis (24/8/2023), Tepco mengatakan bahwa air laut di dekat pembangkit tersebut mengandung kurang dari 10 becquerel tritium per liter, jauh di bawah batas bawah yang ditetapkan sendiri yaitu 700 becquerel.

Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida mengatakan bahwa pembuangan air limbah olahan sekitar 1,3 juta meter kubik dari PLTN Fukushima akan berlanjut setidaknya selama tiga dekade ke depan.

Meskipun pemerintah Jepang telah memberikan jaminan bahwa limbah nuklir tersebut aman, rencana tersebut tetap menjadi kontroversi bagi masyarakat Jepang. Berdasarkan survei surat kabar Asahi Shimbun, hanya 53 persen warga Jepang yang mendukung rencana tersebut, sementara 41 persen menyatakan tidak mendukung.

Melansir BBC, pakar HAM yang ditunjuk oleh PBB menentang rencana tersebut, begitu juga dengan aktivis lingkungan Greenpeace telah merilis laporan yang meragukan proses pengolahan Tepco, dengan menuduh bahwa proses tersebut tidak cukup jauh dalam menghilangkan zat radioaktif.

Para kritikus mengatakan bahwa Jepang seharusnya menyimpan air yang telah diolah di dalam tangki untuk sementara. Mereka berpendapat bahwa hal ini akan memberikan waktu untuk mengembangkan teknologi pengolahan baru, dan memungkinkan radioaktivitas yang tersisa berkurang secara alami.

Ahli biologi kelautan dari University of Hawaii Robert Richmond telah penilaian dampak radiologis dan ekologis oleh Jepang saat ini tidak memadai.

”Hal ini membuat kami sangat khawatir bahwa Jepang tidak dapat mendeteksi apa yang masuk ke dalam air, sedimen, dan organisme. Jika itu terjadi, tidak ada jalan lain untuk menghilangkannya,” ungkap Richmond kepada BBC.

Di sisi lain, Profesor teknik nuklir dari Pusat Penelitian Penghapusan Senjata Nuklir Universitas Nagasaki Tatsujiro Suzuki mengatakan bahwa rencana pelepasan limbah nuklir tersebut tidak akan menyebabkan polusi serius atau membahayakan masyarakat - jika semuanya berjalan dengan baik.

Proses Pelepasan Air Limbah

Pada dasarnya, air yang digunakan untuk mendinginkan reaktor nuklir PLTN Fukushima Daiichi serta air tanah dan air hujan akan terkontaminasi dengan zat radioaktif saat menyentuh bahan bakar nuklir.

Air yang terkontaminasi tersebut kemudian dipompa keluar dan diolah dengan proses filtrasi yang disebut Advanced Liquid Processing System (ALPS). Proses ini menggunakan serangkaian reaksi kimia untuk menurunkan konsentrasi dari 62 isotop radioaktif.

Namun, proses ALPS ini tidak dapat menghilangkan tritium, yang merupakan bentuk hidrogen yang bersifat radioaktif lemah. Meskipun bisa bersifat karsinogenik pada tingkat tinggi, dampak terhadap kesehatan manusia baru dapat dirasakan jika seseorang menelan miliaran unit becquerels atau satuan radioaktif. Air yang dilepaskan oleh Tepco memiliki konsentrasi kurang dari 1.500 becquerel per liter.

Setelah pengolahan awal, serangkaian pengukuran tingkat isotop radioaktif pertama dilakukan sebelum air dipindahkan ke tempat penampungan untuk dicampur dan disirkulasikan selama 144 jam. Perusahaan analisis independen Kaken Co. dan Badan Tenaga Atom Jepang kemudian memulai proses pengujian lebih lanjut selama sekitar dua bulan.

Proses juga sengaja dibuat lambat karena Tepco hanya mampu mengeluarkan paling banyak sekitar 500 meter kubik air olahan per hari, hanya sebagian kecil dari 510.000 meter kubik air laut yang masuk ke dalam fasilitas setiap 24 jam.

Di sektor pengenceran fasilitas, tiga pompa besar menarik air laut yang digabungkan dengan cairan yang telah diolah untuk memastikan konsentrasi tritium jauh di bawah standar yang ditetapkan oleh pemerintah Jepang dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pada saat proses selesai, air yang diolah akan diencerkan lebih dari 350 kali lipat, menurut perhitungan Tepco.

Air yang telah diencerkan tersebut kemudian dipindahkan ke dalam tangki bawah tanah untuk diambil sampelnya. Pada langkah berikutnya, air mengalir melalui wadah yang lebih dalam dan kemudian melalui terowongan pembuangan yang membentang satu kilometer di bawah dasar laut. Setelah itu, air akan dibuang ke laut melalui cerat yang dibuat 12 meter di bawah permukaan laut.

Halaman
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper