Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Badan Pangan Nasional Sebut 5 Derah Perlu Intervensi Pangan, Mana Saja?

Komoditas yang menjadi perhatian antara lain minyak goreng, kedelai, bawang merah, cabai merah keriting, cabai rawit merah, daging sapi, telur, dan ayam.
Annasa Rizki Kamalina
Annasa Rizki Kamalina - Bisnis.com 09 Agustus 2022  |  23:56 WIB
Badan Pangan Nasional Sebut 5 Derah Perlu Intervensi Pangan, Mana Saja?
Sejumlah warga mengantre untuk membeli minyak goreng kemasan saat peluncuran minyak goreng kemasan rakyat (MinyaKita) di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (6/7/2022). ANTARA FOTO - Galih Pradipta
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Badan Pangan Nasional mencatat situasi ketahanan pangan nasional per 2021 terdapat lima wilayah yang menunjukkan perlu adanya intervensi karena harga komoditas lebih dari 25 persen dari harga eceran tertinggi.

Plt Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional Risfaheri menyampaikan dalam paparannya lima wilayah tersebut yakni Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Selatan.

“Daerah yang berwarna hijau [daerah aman] merupakan daerah sentra produksi, sementara yang berwarna merah [perlu intervensi] bukan sentra produksi,” ujarnya dalam diskusi virtual “Menangkis Ancaman Krisis Pangan Global", Selasa (9/8/2022).

Komoditas yang menjadi perhatian antara lain minyak goreng, kedelai, bawang merah, cabai merah keriting, cabai rawit merah, daging sapi, telur, dan ayam.

Komoditas tersebut memiliki harga 25 persen lebih tinggi dari HET masing-masing komoditas. Sebut saja kedelai per 8 Agustus 2022 di Maluku mencapai Rp17.500 per kilogram (kg). Kementerian Perdagangan mencatat kenaikan akan terus terjadi sepanjang tahun ini di atas nilai keekonomian pengrajin tahu tempe, yakni Rp10.000/kg.

Sementara di Papua, komoditas minyak goreng curah menjadi yang tertinggi harganya di Indonesia, yakni Rp20.500 per liter.

Menurut Risfaheri, pemerintah perlu fokus dalam pendistribusian komoditas dari daerah hijau atau surplus menuju daerah defisit.

“Dan permasalahan disini bagaimana kami mendistribusikan ke daerah yang merah supaya dapat berwarna hijau, tentu di samping distribusi itu bagaimana kita meningkatkan produksi di daerah sentra produksi,” lanjutnya.

Dalam paparanya, dari 514 kabupaten/kota di Indonesia, masih terdapat 74 kab/kota atau 14 persen dengan kategori rawan dalam ketahanan pangan.

“Kondisinya masih dalam kategori rawan terutama karena neraca pangan wilayah defisit kemudian masih banyak penduduk dengan tingkat kemiskinan tinggi,” katanya.

Dalam mendorong stabilitas harga dan pasokan, Badan Pangan Nasional rutin mendistribusikan komoditas dari wilayah surplus ke defisit, seperti jagung dan bawang merah.

Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan pun mengungkapkan rencana pengiriman besar-besaran minyak goreng curah dengan merek Minyakita ke Papua akan terlaksana dalam waktu dekat. Melalui pengiriman tersebut, setidaknya 3.000 ton minyak goreng akan membanjiri pasar di Papua dan Maluku.

“Minggu depan kami akan mengapalkan minyak goreng kemasan rakyat merek Minyakita ke Papua dan Maluku. Kami akan banjiri 1.000—3.000 ton dalam satu bulan dengan harga Rp14.000/liter. Jadi kalau sudah terlaksana, di seluruh Indonesia akan tersedia minyak goreng curah dan minyak goreng merek Minyakita dengan harga paling tinggi Rp14.000/liter,” jelasnya dalam keterangan resmi, Minggu (7/8/2022).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

minyak goreng harga cabai badan pangan nasional (BPN) komoditas
Editor : Novita Sari Simamora
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top