Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kinerja Pertamina Tak Bisa Dibandingkan dengan Perusahaan Migas Global

Kerugian yang dicatatkan Pertamina karena terjadinya dua hal besar yakni penurunan harga minyak dunia dan penurunan penjualan baik di hulu maupun di hilir.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 27 Agustus 2020  |  22:18 WIB
SPBU BBM Satu Harga di Kabupaten Musi Banyuasin. istimewa
SPBU BBM Satu Harga di Kabupaten Musi Banyuasin. istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Kendati mayoritas perusahaan migas global turut mengalami kerugian pada semester I/2020, tidak lantas bisa menjadi komparasi kinerja PT Pertamina (Persero).

Staf Pengajar Universitas Trisakti Pri Agung Rakhmanto menilai terlalu banyak aspek dan komponen yang tidak bisa dilihat sebagai pembanding antara kinerja Pertamina dengan perusahaan migas global.

Dia mengatakan, satu-satu kesamaan yang dimiliki Pertamina dengan perusahaan tersebut hanyalah sebaga perusahaan yang bergerak di bidang energi, khususnya minyak dan gas bumi.

Namun, selebihnya seperti jenis aset, portofolio bisnis, pasar dari perusahaan-perusahaan tersebut, hingga besaran perusahaan migas global lainnya tentu memiliki perbedaan.

"International oil company [IOCs] itu tidak ada yang terkait dengan subsidi harga BBM, dengan market yang berbeda. Itu jelas salah satu contoh yang sudah beda kondisi," katanya kepada Bisnis, Kamis (27/8/2020).

Namun, kerugian yang dicatatkan Pertamina menurutnya masih dapat dianggap wajar karena terjadinya dua hal besar yakni penurunan harga minyak dunia dan penurunan penjualan baik di hulu maupun di hilir akibat turunnya permintaan pengaruh pandemi Covid-19.

Pri Agung menambahkan, dalam hal besaran kerugian yang hingga lebih dari 100 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, itu mungkin yang perlu dilihat lebih jauh secara rinci.

Pasalnya, penurunan pendapatan dan penjualan hanya berkisar 19,56 persen. Dengan demikian, memang perlu dilihat lebih dalam penyebab yang menimbulkan kerugian sebesar itu.

"Karena dengan tingkat kerugian sebesar itu, meskipun demand dan pasar migas sudah mulai pulih, tentu akan memperberat upaya dalam bisa membukukan laba di tahun ini," jelasnya. Senada,

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi mengatakan perusahaan-perusahaan migas global tersebut tidak dapat menjadi pembanding kinerja Pertamina.

Menurut dia, Pertamina merupakan representasi negara yang mendapatkan berbagai kemudahan dan fasilitas dari pemerintah.

Sebagai contoh, di hulu Pertamina dapat prioritas mengelola lahan migas, baik lahan baru maupun terminasi. Di hilir, Pertamina mendapat hak monopoli untuk mendistribusikan BBM.

Apabila Pertamina menjual BBM di bawah harga keekonomian, maka akan mendapatkan dana kompensasi. Pada 2019 dana kompensasi diberikan pemerintah sekitar Rp45 triiun.

Dia menambahkan, meski mendapatkan penugasan untuk menanggung biaya BBM Satu Harga, tapi pemerintah memberikan kompensasi, salahnya satu pemberian Blok Mahakam secara gratis.

"Dalam kondisi tersebut, Pertamina mestinya tidak boleh rugi," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertamina covid-19
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top