Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pertamina Sebut Pandemi Covid-19 Lebih Parah daripada Krismon

Pembukuan Pertamina secara fundamental menggunakan kurs dolar AS, sedangkan pendapatan menggunakan rupiah.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 26 Agustus 2020  |  18:27 WIB
Logo Pertamina - Ilustrasi
Logo Pertamina - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA — PT Pertamina (Persero) menyebut kondisi yang terjadi selama pandemi Covid-19 disebut lebih parah dibandingkan dengan krisis keuangan (krisis moneter/krismon) yang pernah terjadi sebelumnya.

Hal itu diungkapkan oleh Direktur Keuangan Pertamina Emma Sri Martini saat dimintai penjelasan oleh Komisi VII DPR terkait dengan kerugian yang dialami perseroan pada periode semester I/2020 dalam rapat kerja Menteri ESDM dengan Komisi VII pada Rabu (26/8/2020).

Emma mengungkapkan bahwa biasanya faktor penekan kinerja Pertamina hanya berasal dari dua faktor yakni volatilitas kurs dan harga minyak mentah dunia yang tidak terjadi dalam waktu bersamaan. Namun, pada pandemi ini terdapat tiga faktor penekan yang terjadi secara bersamaan sehingga menekan seluruh sektor bisnis yang dijalankan Pertamina.

"Ini beda sekali dengan krisis sebelumnya. Biasanya kalau terdampak itu volatilitas kurs dan crude price, kalau sekarang demand signifkan pada revenue kami. Bahkan, kondisi sekarang ini lebih berat dari krisis finansial," katanya pada Rabu (26/8/2020).

Sepanjang semester I/2020, terjadi selisih kurs yang yang pada tahun lalu menghasilkan pendapatan bagi Pertamina sebesar US$64 juta, akan tetapi pada tahun ini pos nilai tukar memberi kerugian US$211,83 juta. Dampaknya perusahaan membukukan rugi sebelum pajak penghasilan sebesar US$58,30 juta.

Emma mengatakan bahwa selisih kurs berdampak sangat besar bagi kinerja keuangan Pertamina. Pasalnya, pembukuan perseroan secara fundamental menggunakan kurs dolar AS, sedangkan pendapatan menggunakan rupiah.

"Jadi, secara translasi itu tadi kalau disampaikan utang harga jual eceran Rp96 triliun dan piutang subsidi Rp13 triliun, itu sudah merepresentasikan 60 persen rugi kurs kami," jelasnya.

Dia optimistis pada akhir tahun nanti Pertamina bisa membukukan kinerja positif seiring dengan adanya perbaikan dan pemulihan kegiatan.

Selain itu, harga minyak mentah dunia yang telah merangkak naik menjadi sinyal positif bagi kinerja Pertamina hingga akhir tahun nanti.

"Pada Juli—Agustus ada perbaikan. Mudah-mudahan di Desember bisa positif meskipun tipis tapi sudah keliatan," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertamina krisis finansial
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top