Masuk Tol Trans-Sumatra, Truk Kelebihan Beban Bakal Ditindak

Penertiban itu dilakukan lewat razia gabungan antara operator jalan tol dan Dinas Perhubungan Provinsi Lampung.
Ropesta Sitorus & Rivki Maulana
Ropesta Sitorus & Rivki Maulana - Bisnis.com 12 September 2019  |  11:27 WIB
Masuk Tol Trans-Sumatra, Truk Kelebihan Beban Bakal Ditindak
Truk-truk sarat muatan (ODOL) bebas lalu lalang di jalan tol Bakauheni-Terbanggi Besar sepanjang 140,9 kilometer tanpa ada perhatian dari petugas. - Bisnis/Tim Jelajah Infrastruktur 2019

Bisnis.com, BANDAR LAMPUNG — Praktik kendaraan angkutan yang melebihi dimensi dan muatan atau over dimension overloading di jalan tol Bakauheni—Terbanggi Besar bakal segera ditindak.

Penertiban itu dilakukan lewat razia gabungan antara operator jalan tol dan Dinas Perhubungan Provinsi Lampung.

Kepala Bagian Operasional Jalan Tol Bakauheni—Terbanggi Besar Hery Prasetyo mengatakan bahwa razia gabungan diperlukan karena operator tidak memiliki kewenangan untuk melakukan penindakan.

Dia menyebutkan bahwa pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Provinsi Lampung terkait dengan operasi penindakan yang akan digelar.

"Sekarang masih ada truk odol [over dimension overloading] yang melintas. Kami tidak punya kewenangan [menindak]. Untuk itu, kami rapat dengan Dishub supaya ada razia gabungan untuk penindakan," ujarnya kepada Bisnis, Kamis (12/9/2019).

Kewenangan operator jalan tol terbatas pada upaya pencegahan dengan landasan hukum Undang-Undang No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan dan PP No. 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol.

Lingkup kewenangan pencegahan itu antara lain operator memiliki hak untuk tidak mengizinkan kendaraan yang melebihi kapasitas muatan dan dimensi melintas di jalan tol.

Hery menuturkan bahwa ke depan, operator bisa memasang sensor weight in motion (WIM) untuk menimbang secara akurat kendaraan yang melebihi dimensi dan muatan sebelum memasuki jalan tol.

Praktik odol, diakui Hery amat merugikan pengelola jalan bebas hambatan. Tonase yang melebihi muatan membuat umur perkerasan jalan menurun sehingga perlu dilakukan perbaikan jalan sebelum waktunya.

"Biasanya tol itu yang rusak lajur kiri karena odol jalannya lambat dan dia jalan di kiri," tutur Hery.

Sementara itu, Tim Jelajah Infrastruktur Sumatra 2019 masih menjumpai kendaraan odol di jalan tol Bakauheni—Terbanggi Besar. Mulai dari gerbang tol Lematang sampai dengan gerbang tol Gunung Sugih. Tim menjumpai sedikitnya 60 kendaraan yang diduga melampaui dimensi dan muatan dari yang semestinya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jelajah Infrastruktur Sumatra 2019, tol trans sumatra, Truk ODOL

Editor : Zufrizal

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top