Mengapa Tol Trans-Sumatra Disukai Sopir Truk? Ini Kata Hutama Karya

Salah satu ruas dari tol Trans-Sumatra yang sudah sudah resmi beroperasi sejak Maret 2019 yakni Bakauheni—Terbanggi Besar (Bakter) sepanjang 140,90 kilometer yang berada di wilayah Lampung.
Ropesta Sitorus & Rivki Maulana
Ropesta Sitorus & Rivki Maulana - Bisnis.com 11 September 2019  |  20:09 WIB
Mengapa Tol Trans-Sumatra Disukai Sopir Truk? Ini Kata Hutama Karya
Sejumlah truk berada di rest area KM 116 jalan tol Bakauheni-Terbanggi Besar, Lampung, Sabtu (4/5/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — PT Hutama Karya (Persero) optimistis pembangunan jalan tol Trans-Sumatra akan membawa manfaat besar bagi perekonomian dan disambut positif oleh masyarakat.

Salah satu ruas dari tol Trans-Sumatra yang sudah sudah resmi beroperasi sejak Maret 2019 yakni Bakauheni—Terbanggi Besar (Bakter) sepanjang 140,90 kilometer yang berada di wilayah Lampung.

Menurut Corporate Secretary PT Hutama Karya Muhammad Fauzan, jalan tol diminati oleh pengemudi lantaran lebih aman dan bebas pungutan liar (pungli).

Tak jarang, di sejumlah titik ruas jalan reguler kerap ditemui pungutan liar oleh sekelompok warga, terutama di jalan yang kondisinya tidak layak.

“Di Sumatra itu cukup positif. Bakauheni dan Palembang saja sudah luar biasa antusiasme masyarakat. Sopir-sopir senang masuk jalan tol karena lebih aman, bebas pungli, dan [terhindar dari] bajing loncat,” katanya dalam acara pelepasan Tim Jelajah Infrastruktur Sumatra 2019 di Jakarta, Rabu (11/9/2019).

Bajing loncat adalah kiasan yang merujuk kepada pencoleng yang mencuri barang muatan dari atas kendaraan, seperti truk dan bus yang sedang berjalan.

Fauzan menjelaskan bahwa minat pengguna jalan tol dinilai tetap besar, kendati kebijakan tarif telah diberlakukan dengan tarif terjauh (barrier to barrier) sebesar Rp109.000 sampai dengan Rp217.500, bergantung pada golongan kendaraan.

PT Hutama Karya, melalui Perpres Nomor 117/2015 ditugaskan oleh pemerintah untuk membangun jalan tol Trans-Sumatra sepanjang 2.765 kilometer dari Bakauheni hingga Banda Aceh. Pembangunannya dibagi atas 24 ruas dengan nilai investasi mencapai Rp476 triliun.

Setelah ruas Bakter, Hutama Karya juga segera mengoperasikan ruas Terpeka yang terdiri dari Terbanggi Besar—Pematang Panggang dan Pematang Panggang—Kayuagung.

Hutama Karya tengah melakukan uji layak operasi untuk ruas ini dan ditargetkan mulai beroperasi resmi selepas 5 Oktober 2019.

Pada perkembangan lain, Muhammad Fauzan menuturkan pihaknya juga tengah menggarap pembangunan ruas-ruas lain yang ada di sejumlah wilayah di Sumatra yakni di Aceh, Sumatra Utara, dan Riau. Seluruh ruas tol Trans-Sumatra diharapkan dapat tersambung penuh pada 2024.

“Kami sedang mengerjakan dari Banda Aceh—Singli sepanjang 74 kilometer, lalu nanti dari Medan ke Langsa sedang dalam perencanaan. Kami juga bangun tol dari Kuala Tanjung, itu pelabuhan samudra yang baru, terus ke Parapat. Yang akan kami operasikan juga Pekanbaru—Dumai, akhir tahun nanti sepanjang 131 kilometer. Diharapkan konektivitas baru akan sangat terasa kalau sudah tersambung,” kata Fauzan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jelajah Infrastruktur Sumatra 2019, hutama karya, trans-sumatra

Editor : Zufrizal
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top