Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Jelajah EV: Denyut Ekonomi Sirkular di Jantung Tambang Harita

Harita Nickel bergerak mengadopsi ekonomi sirkular, yang menjadikan aktivitas tambang jauh lebih ramah lingkungan.
Pemandangan udara Pit Komodo, salah satu situs tambang di Pulau Obi yang direklamasi Harita Nickel pada Selasa (5/12/2023)/Bisnis- Fanny Kusumawardhani
Pemandangan udara Pit Komodo, salah satu situs tambang di Pulau Obi yang direklamasi Harita Nickel pada Selasa (5/12/2023)/Bisnis- Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, MALUKU UTARA- Dampak tambang tak semenyeramkan dulu, yang menjadikan gunung sebagai lembah tempat banyak korban berjatuhan. Tambang terlebih lagi untuk nikel, kini bisa melahirkan siklus ekonomi yang tak putus, limbah-limbah diolah sebagai produk bernilai tambah, reklamasi tambang memunculkan bukit lestari.

Ekonomi sirkular semakin marak dikampanyekan para pakar guna diadopsi berbagai sektor ekonomi. Prinsip ekonomi sirkular bertumpu pada siklus produk atau barang yang tak mudah terbuang menjadi limbah maupun sampah.

Prinisp demikian dianggap sebangun dengan prinsip pembangunan berkelanjutan, plus ramah lingkungan. Saat ini, aktivitas pertambangan pun tak luput untuk mempraktikan prinsip ekonomi sirkular.

Salah satunya di situs pertambangan Harita Nickel yang berada di Kecamatan Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Pulau Obi saat ini merupakan salah satu lokasi pertambangan nikel sekaligus pusat pengolahan terbesar di dunia.

Harita Nickel sejak 2010 mengeksplorasi kandungan nikel Pulau Obi. Bermodal Izin Usaha Pertambangan seluas 5.524 hektare, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) selaku anak usaha telah memainkan peran vital produksi nikel.

NCKL memasok bijih nikel yang diserap smelter RKEF dan HPAL. Khusus RKEF (Rotary Klin Electric Furnace) yang mengolah nikel kadar tinggi atau saprolit, entitas usaha Harita Group diwakili Megah Surya Pertiwi (MSP) dan Halmahera Jaya Feronikel (HJF). Kapasitas produksi HJF sendiri telah mencapai 780 ribu metrik ton per tahun.

Sementara untuk fasilitas High Pressure Acid Leaching atau HPAL yang mengolah bijih nikel rendah atau limonit sejauh ini digarap PT Halmahera Persada Lygend.

Hasil olahan limonit berupa Mixed Hydroxite Precitipate (MHP) yang bisa dipisahkan menjadi nikel dan kobalt untu material baterai kendaraan listrik. Rincian kapasitas produksi itu mencapai 365 ribu metrik ton MHP per tahun, serta nikel sulfat sebanyak 240 ribu, dan kobalt sulfat sebesar 30.000 metrik ton per tahun.

Ke depan, Harita Nickel pun bakal membangun ekosistem penghiliran nikel tahap lanjut. Dalam waktu dekat, juga akan beroperasi PT Obi Nickel Cobalt, menyusul kemudian Obi Stainless Steel, serta pabrik feronikel paling besar di bawah PT Karunia Permai Sentosa (KPS).

Dari seluruh proses hulu tambang hingga pengolahan inilah menumpuk banyak sisa material. Harita Nickel pun putar otak untuk mengembalikan kondisi alam pasca penambangan.

“Di sini kami memang mempunyai visi hilirisasi mineral, nikel yang keluar dari Obi tidak lagi mentah, sudah bernilai tambah. Di samping itu, kami juga harus mengelola dan melestarikan alam,” ungkap Direktur Operasional Harita Nickel Younsel Evand Roos kepada Tim Jelajah EV Bisnis Indonesia, pada Selasa (5/12/2023).

Salah satu yang kasatmata adalah bukit-bukit hijau rimbun kembali menghiasi Pulau Obi. Selama pengamatan Tim Jelajah EV Bisnis, tak menemui lubang bekas tambang terbuka menganga.

Pit Komodo yang merupakan salah satu bekas tambang nikel gelombang pertama, kini tak ubahnya hutan rimbun. Bahkan, fauna endemik seperti Burung Kasturi Ternate dan Nuri Pipi Merah kembali merangkai habitatnya.

“Kami selalu melakukan reklamasi setelah tambang-tambang tidak digunakan, total yang telah kami reklamasi mencapai 197 hektare,” Steffani Silferansti selaku Nursery Operation Foreman PT TBP.

Dari hasil reklamasi, selain fauna endemik, tumbuh pula tumbuhan khas Obi berupa Jabon Merah dan Sereh. Untuk tanaman Sereh, Tim Enviromental TBP tengah mengujicoba olahan sebagai minyak atsiri.

“Ini kami tengah ujicoba di laboratorium, ternyata bisa digunakan sebagai minyak atsiri, nanti warga ikut mengolahnya,” ungkap Steffani.

Catatan menarik lainnya, Harita Nickel juga sukses mengolah limbah dari pengolahan nikel saprolit berupa slag. Terak nikel ini digabung dengan fly ash dari abu batu bara yang berasal dari pembangkit listrik, menjadi produk beton dan batako.

“Kemarin kami memproduksi 12 juta piece batako dari olahan slag, digunakan untuk pembangunan rumah dan infrastruktur jalan Kampung Kawasi Baru,” Charles Hasiholan Assistant Head of Techcnical Support PT Megah Surya Pertiwi.

Singkat kata, pada perjalanan jelajah hari kedua ini, Tim Bisnis Indonesia mengamati keseluruhan proses pertambangan tak menghasilkan material yang sia-sia. Bahkan lubang bekas tambang, kembali berwujud bukit lestari.

Inikah jalan damai kala tambang bisa berdamai dengan lingkungan alam dan sekitar?

 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Kahfi
Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper