Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Jelajah EV: Kisah Harita Nickel Terbitkan Harapan Petani Pulau Obi

Keberadaan Harita Nickel menjadi berkah tersendiri bagi petani di Pulau Obi. Hasil pertanian dan peternakan pun diserap untuk konsumsi karyawan.
PETANI BINAAN HARITA NICKEL Petani memberi pakan ikan di desa Akegula, Pulau Obi, Maluku Utara, Jumat (8/12/2023). Petani binaan Harita Nickel tersebut memiliki berbagai jenis ikan mulai dari nila hingga lele. JIBI/Bisnis/Fanny Kusumawardhani
PETANI BINAAN HARITA NICKEL Petani memberi pakan ikan di desa Akegula, Pulau Obi, Maluku Utara, Jumat (8/12/2023). Petani binaan Harita Nickel tersebut memiliki berbagai jenis ikan mulai dari nila hingga lele. JIBI/Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA - Pertanian ternyata menjadi salah satu sektor yang tidak kalah penting dari pertambangan nikel yang ada di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Para petani yang ada di Desa Akegula, Pulau Obi menjadi pemasok buah dan sayuran untuk ribuan karyawan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel.

Tim Jelajah EV Bisnis Indonesia berkesempatan mengunjungi sejumlah petani yang menjadi tulang punggung pemasok bahan pangan para karyawan Harita Nickel tersebut, pada Jumat (9/12/2023). Petani-petani tersebut saat ini juga telah menjadi mitra penting Harita Nickel untuk memastikan ketersediaan bahan pangan di Pulau Obi.

Salah satu petani tersebut adalah Siti Marnia atau Nia. Wanita asal Kendari, Sulawesi Tenggara itu menuturkan, dirinya datang ke Pulau Obi pada 2015 lalu dan langsung mencoba bertani. Nia bercerita, kala itu dirinya mencoba menerapkan ilmu yang dia dapat dari program pertukaran petani Indonesia-Jepang yang dia ikuti pada 1999-2000 lalu.

Setelah sempat berpindah-pindah pada beberapa daerah di Pulau Obi, dirinya akhirnya memutuskan membuka lahan dan menetap di Desa Akegula.

Pada awalnya, hasil panen dari lahan yang digarap oleh Nia hanya dijual untuk kebutuhan di masyarakat sekitar. Dia mengatakan, dirinya hanya bisa menjual sekitar 10-20 kilogram hasil tani per bulannya ke masyarakat di sekitar Desa Akegula.

Kemudian, mulai 2016 lalu, Nia menjalin kerja sama dengan Harita Nickel untuk memasok sayur-sayuran dan buah-buahan untuk kebutuhan konsumsi karyawan perusahaan. Dirinya pun langsung mengajak sejumlah warga sekitar untuk mulai menjadi petani untuk memenuhi kebutuhan pasokan tersebut.

Nia mengakui pada awalnya masyarakat Desa Akegula cenderung enggan untuk menjadi petani karena khawatir hasil panennya tidak akan terjual.

“Sebelumnya, mereka lebih banyak yang berprofesi sebagai nelayan, atau petani pala dan cengkih,” kata Nia saat ditemui Tim Jelajah EV Bisnis Indonesia di Desa Akegula, Pulau Obi pada Jumat (9/12/2023).

Namun, setelah melihat kegigihannya dan hasil penjualan yang memuaskan dari kemitraan dengan Harita Nickel, Nia mengaku dirinya kini lebih mudah untuk mengajak warga untuk beralih profesi menjadi petani.

Nia menuturkan, hasil panen dari lahannya dan sejumlah petani dalam kelompok taninya kini dipasok ke Harita Nickel. Nia mengaku dapat memasok sekitar 4 hingga 6 ton beragam sayur dan buah per bulannya ke perusahaan.

“Sekarang yang kami tanam itu ada tomat, semangka, cabai rawit, cabai besar,kacang panjang, terong, dan timun,” jelas Nia.

Selain bermanfaat dari sisi ekonomi, Nia menuturkan kemitraan yang dijalin dengan Harita Nickel juga menguntungkan untuk para kelompok tani dari aspek lain. Nia mengatakan, salah satu bentuk pembinaan yang dilakukan oleh Harita Nickel adalah memberi edukasi seputar pertanian, mulai dari tanaman yang cocok, pengairan, hingga bantuan bersifat administratif seperti pembukuan dan lainnya.

Teranyar, Nia menuturkan Harita Nickel juga memberikan bantuan berupa pembangunan greenhouse untuk sejumlah petani. Greenhouse tersebut rencananya akan digunakan untuk penanaman sayur sawi putih agar nantinya perusahaan tidak lagi membeli komoditas sayuran itu dari Manado, Sulawesi Utara.

Nia menjelaskan, dirinya memiliki cita-cita agar seluruh kepentingan pangan baik sayuran dan buah-buahan Harita Nickel dapat dipenuhi seluruhnya dari 12 kelompok tani yang saat ini ada di Pulau Obi. Sehingga, roda perekonomian di Pulau Obi dapat berjalan dengan optimal serta terciptanya kesejahteraan hidup para petani di daerah itu.

Oleh karena itu, dirinya juga berharap Harita Nickel dapat mengabulkan permintaan 12 kelompok tani tersebut untuk membangun koperasi bernama Koperasi Petani Bersatu. Nia mengatakan, pembentukan koperasi tersebut agar proses pasokan hasil panen para kelompok tani ke Harita Nickel berjalan dengan lebih optimal tanpa adanya kehadiran perantara.

“Saya mau kita petani dan Harita Nickel bersama-sama membangun pertanian di Pulau Obi,” katanya.

Nia melanjutkan, hasil jerih payahnya bertani dan bermitra dengan Harita Nickel pun telah membuahkan hasil yang positif. Dia menceritakan, dari hasil pertanian tersebut, dirinya sudah dapat membangun rumah dan membuka usaha laundry di kampung halamannya, Kendari, Sulawesi Tenggara.

Petani binaan Harita Nickel
Petani binaan Harita Nickel

JIBI/Bisnis/Fanny Kusumawardhani PETANI BINAAN HARITA NICKEL Petani memetik tomat di desa Akegula, Pulau Obi, Maluku Utara, Jumat (8/12/2023). Petani binaan Harita Nickel tersebut dapat menyuplai sayur dan buah 4 hingga 6 ton setiap bulannya.

Kini, Nia telah memiliki lahan pertanian sekitar 3,4 hektare di Pulau Obi untuk terus meningkatkan hasil panennya. Teranyar, Nia mengatakan dirinya telah membeli tanah sebanyak 12 kavling dengan harga sekitar Rp150 juta.

Hal senada diungkapkan Bambang Pujianto. Dia baru mulai bergabung menjadi mitra Harita Nickel sebagai petani pada Desember 2022 lalu.

Bambang bercerita, dirinya sudah menetap di Pulau Obi sejak 1997 lalu. Kala itu, Bambang yang berasal dari Ponorogo, Jawa Timur datang ke Pulau Obi sebagai kontraktor untuk pembangunan mercusuar di pulau tersebut.

Setelah pembangunan mercusuar tersebut rampung, dirinya memulai usaha berjualan ayam potong pada 2003 lalu. Saat itu, dia bermitra dengan salah satu perusahaan tambang lain yang ada di wilayah Pulau Obi selama beberapa waktu untuk menjual hasil usahanya.

PENGEMBANGAN PETERNAKAN

Kemudian, Bambang beralih menjadi mitra Harita Nickel saat perusahaan tersebut masuk ke daerah Pulau Obi. Namun, karena adanya ketimpangan antara biaya operasional dan harga ayam potong di pasaran yang rendah, dirinya pun terpaksa menutup usaha tersebut.

“Harga jualnya sudah tidak cocok, makanya saya beralih ke pertanian dan juga peternakan ikan,” jelas Bambang.

Pada lahan seluas sekitar 1,8 hektare tersebut, Bambang bersama empat rekannya bekerja setiap hari mengelola tanaman dan peternakan ikan tersebut. Dia menuturkan, saat ini dirinya menanam melon, semangka, cabai keriting, kangkung, dan sawi pada lahannya.

Dia melanjutkan, saat pertama kali bergabung menjadi mitra Harita Nickel sebagai petani dan peternak ikan, Bambang diberikan sejumlah bantuan berupa bibit tanaman dan sejumlah modal untuk memulai usahanya.

Modal yang diberikan perusahaan tersebut kemudian berhasil dikelola sehingga dirinya dan keempat rekannya dapat mulai menanam beberapa jenis sayur dan buah. 

“Selain diberi modal dan diajari keahlian bertani, petugas dari perusahaan juga mengajari kami membuat pupuk kompos. Kami juga pernah juga diajari pembudidayaan cacing sutra untuk pakan ikan,” jelas Bambang.

Sementara itu, Bambang juga terus berupaya mengembangkan usaha pembibitan ikan seperti lele, koi, ikan mas, dan nila merah. Dia menuturkan, saat ini usaha pembibitan ikan ini belum menghasilkan keuntungan karena masih minimnya pasar di wilayah Pulau Obi.

Adapun, dari hasil pertaniannya Bambang mengatakan dirinya dapat menjual sekitar 200 kilogram semangka dan 400 kilogram melon per pekannya ke Harita Nickel yang disalurkan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Akegula.

Bambang mengatakan, harga jual yang didapatnya ke Harita Nickel juga cukup baik. Dia mencontohkan, perusahaan dapat membeli semangka yang diproduksi lahannya pada harga sekitar Rp9.000 per kilogramnya.

Dia menuturkan, hasil kemitraannya dengan Harita Nickel di sektor pertanian mulai menunjukkan hasil yang  positif. Meski demikian, serupa dengan Nia, Bambang pun berharap pembentukan koperasi tani tersebut dapat terealisasi agar dapat meningkatkan kesejahteraan petani-petani di Pulau Obi.

“Kalau sudah terbentuk (koperasi), nanti kan pasti akan ada pembagian jatah untuk penanaman tumbuhan per petani atau kelompoknya,” kata Bambang.

 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper