Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Progres Pembangunan Stasiun Sentral Manggarai 60 Persen, Stasiun Gambir Masih Layani Kereta Jarak Jauh

Hingga Mei 2022, progres pembangunan Stasiun Manggarai sebagai stasiun sentral sudah berjalan 60,1 persen, untuk pembangunan fisik sisi timur stasiun. Targetnya, stasiun akan dioperasikan pada 2023.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 09 Juni 2022  |  08:42 WIB
Progres Pembangunan Stasiun Sentral Manggarai 60 Persen, Stasiun Gambir Masih Layani Kereta Jarak Jauh
Penumpang memasuki peron di Stasiun Gambir, Jakarta, Sabtu (1/6/2019). - ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Bisnis.com, JAKARTA- Pembangunan Stasiun Manggarai menjadi stasiun sentral saat ini masih berlangsung. Oleh sebab itu, Stasiun Gambir ditegaskan masih akan melayani kereta api jarak jauh, atau belum berubah fungsi ke pelayanan KRL saja.  

Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengungkap bahwa per Mei 2022 progres pembangunan Stasiun Manggarai sebagai stasiun sentral sudah berjalan 60,1 persen, untuk pembangunan fisik sisi timur stasiun. Targetnya, stasiun akan dioperasikan pada 2023.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Zulfikri mengatakan Stasiun Manggarai dipilih menjadi lokasi pengembangan stasiun sentral karena posisinya yang dinilai strategis. Selain itu, peran Manggarai dinilai sangat vital dalam menunjang layanan kereta api di ibu kota.

Sebelum menjadi stasiun sentral pun, Stasiun Manggarai sudah berperan sebagai stasiun hub untuk tujuh persimpangan jalur kereta api. Hal itu menjadikan Manggarai sebagai stasiun tersibuk, yang melayani lebih dari 20.000 penumpang dan 616 perjalanan KRL setiap hari sebelum pandemi.

"Saat ini, Stasiun Manggarai sudah mengemban peran menjadi stasiun hub untuk tujuh persimpangan jalur kereta api yang terdiri dari jalur kereta api yang mengarah ke Jatinegara, arah ke Jakarta Kota, arah ke Tanah Abang, arah ke Bogor, arah ke depo KRL Bukit Duri, arah ke Pusat Gudang Persediaan, serta mengarah ke Balai Yasa Manggarai," ucap Zulfikri, dikutip dari siaran pers, Kamis (9/6/2022).

Zulfikri menyampaikan bahwa pengembangan Stasiun Manggarai sebagai Stasiun Sentral guna mengakomodasi tingginya lalu lintas kereta api dan mengurai bottleneck yang sering terjadi. Nantinya, stasiun sentral akan melayani 18 jalur aktif saat pengoperasian penuh nanti.  

Adapun, seluruh jalur tersebut akan melayani kereta api jarak jauh, KRL Jabodetabek, serta KA Bandara sehingga memudahkan masyarakat untuk berganti layanan kereta api dalam satu gedung stasiun.

Kemudian, delapan dari total 18 jalur tersebut akan terletak pada lantai dasar (at grade) dan 10 jalur layang di lantai 2, sedangkan lantai 1 akan berfungsi sebagai tempat orang bertemu saat lalu lalang di stasiun (concourse) yang akan diperluas.

"Concourse akan menjadi dua kali lebih luas dibandingkan saat ini, sehingga masyarakat akan lebih nyaman saat melakukan transit dan kegiatan lainnya di dalam stasiun," terang Zulfikri.

Tidak hanya itu, Stasiun Manggarai juga akan dilengkapi dengan 14 lift dan 14 eskalator untuk menunjang pergerakan penumpang pada tahap pengembangan akhir nanti.

Terkait dengan integrasi moda lain, rencananya Stasiun Manggarai akan dipersiapkan untuk bisa diintegrasikan dengan LRT, Transjakarta, dan transportasi umum lainnya. Di samping itu, DJKA akan bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mengembangkan kawasan di sekitar Stasiun Manggarai sebagai kawasan bisnis terpadu.

"Pengembangan integrasi dan interkoneksi antarmoda ini dilakukan sebagai upaya untuk mengakomodasi pergerakan 1,2 juta penumpang yang diperkirakan akan dilayani oleh Stasiun Manggarai," terang Zulfikri.

Oleh sebab itu, Zulfikri menegaskan bahwa penyesuaian di Stasiun Manggarai diperlukan agar pembangunan menjadi stasiun sentral tidak terhambat. Salah satu penyesuaian tersebut yakni switch over atau SO 5 agar memindahkan peron dan jalur aktif yang melayani KRL sehingga pembangunan dapat dilanjutkan pada sisi timur.

Setelah SO 5 yang merubah pola operasi khususnya bagi lintas Bogor dan Bekasi/Cikarang, pelaksanaan SO 6 akan dilakukan pada November 2022 kemudian SO 7 yang akan dilakukan setahun setelahnya.

"Rangkaian kegiatan switch over (SO) ini diperlukan untuk memastikan operasional Stasiun Manggarai dapat berlangsung meski pembangunan terus berjalan," ucap Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Jakarta dan Banten Rode Paulus.

Setelah selesai dibangun, Stasiun Sentral Manggarai diharapkan mampu meningkatkan pelayanan bagi penumpang KRL Jabodetabek dan KA jarak jauh dari dan ke Provinsi DKI Jakarta. Pemerintah mengacu kepada negara-negara seperti Thailand dan Malaysia yang sudah lebih dulu menggunakan staisun sentral. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top