Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Dorong Bahan Bakar Bersih, Pemerintah Beri Kompensasi untuk Pertalite

Pemerintah secara serius akan mengalihkan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) masyarakat ke produk dengan kualitas oktan yang lebih baik melalui penggunaan Pertalite selama masa transisi.
Pekerja menempel gambar informasi tentang BBM jenis Pertalite jelang uji pasar di SPBU Coco, Abdul Muis, Jakarta./ANTARA
Pekerja menempel gambar informasi tentang BBM jenis Pertalite jelang uji pasar di SPBU Coco, Abdul Muis, Jakarta./ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah secara serius akan mengalihkan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) masyarakat ke produk dengan kualitas oktan yang lebih baik melalui penggunaan Pertalite selama masa transisi.

Hal itu dilakukan untuk mendorong penggunaan BBM yang lebih ramah lingkungan oleh masyarakat.

Direktur Pembinaan Usaha Hilir Migas Kementerian ESDM Soerjaningsih mengatakan, upaya mendorong penggunaan BBM ramah lingkungan harus tetap memperhatikan aspek keterjangkauan dari sisi harga agar tidak menimbulkan beban baru bagi masyarakat.

Untuk itu, Pertalite dinilai dapat menjadi jembatan sebelum nantinya masyarakat beralih ke Pertamax atau RON 92.

Hal itu pun sejalan dengan diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 117/2021 yang telah memasukkan ketentuan jenis bensin (gasoline) RON 88 yang merupakan 50 persen dari volume jenis bensin RON 90 yang disediakan dan didistribusikan oleh badan usaha penerima penugasan diberlakukan sebagai JBKP sejak 1 Juni 2021 sampai dengan ditetapkan oleh Menteri.

“Bahwa dalam Pertalite ada komponen Premium, memang kami mengharapkan ada perbaikan terkait kualitas BBM yang dikonsumsi masyarakat, namun tetap menjaga affordability-nya. Jadi terkait BBM yang ada saat ini beredar di masyarakat, Pertalite akan mendapatkan kompensasi,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar pada Rabu (19/1/2022).

Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Tutuka Ariadji mengatakan bahwa sampai dengan saat ini pemerintah masih belum menarik pendistribusian Premium untuk masyarakat.

Menurut dia, jumlah penggunaan Premium oleh masyarakat telah mengalami penurunan yang cukup pesat, sehingga masih akan tetap didistribusikan hingga ditinggalkan oleh masyarakat dengan sendirinya.

“Kalau Premium itu kan tinggal sedikit, di kita sekitar 0,3 persen. Nanti secara natural akan habis dan kemudian Pertalite yang akan muncul,” imbuhnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Muhammad Ridwan
Editor : Lili Sunardi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper