Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pengamat BUMN: SWF Indonesia Lebih Bergaya SWF Rusia

LPI Indonesia atau Indonesia Investment Authority (INA) juga memiliki tujuan yang serupa dengan National Wealth Fund (NWF) Rusia, yakni pembangunan infrastruktur.
Managing Director Lembaga Management FEB Universitas Indonesia Toto Pranoto dalam Seminar Prospek BUMN di Tahun Politik 2019, di Jakarta, Rabu (13/3/2019)./Bisnis/M. Nurhadi Pratomo
Managing Director Lembaga Management FEB Universitas Indonesia Toto Pranoto dalam Seminar Prospek BUMN di Tahun Politik 2019, di Jakarta, Rabu (13/3/2019)./Bisnis/M. Nurhadi Pratomo

Bisnis.com, JAKARTA - Pengamat BUMN dari Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto mengatakan dari sekian banyak Sovereign Wealth Fund (SWF) di dunia, Lembaga Pengelola Investasi (LPI) Indonesia mirip mirip dengan SWF yang ada di Rusia.

Menurut Toto, LPI Indonesia atau Indonesia Investment Authority (INA) juga memiliki tujuan yang serupa dengan National Wealth Fund (NWF) Rusia. Hal ini diungkapkan Toto pada siaran BUMN bertema "Siapkah BUMN Infrastruktur Optimalkan Dana LPI?".

"Saya kira dari berbagai model yang ada di dunia, ini [LPI] mirip yang diterapkan di Rusia [NWF]," ungkap Toto pada acara virtual BUMN pada Senin (8/3/2021).

Toto mengungkapkan kemiripan ini berdasarkan konteks pembangunan infrastruktur. Di Rusia, NWF bertujuan secara khusus untuk pembangunan infrastruktur di dalam negeri yang sudah dijalankan dalam beberapa tahun ke belakang.

"Institusi yang dianggap lokal mau investasi di proyek infrastruktur domestik tentunya ini memberikan suatu kesempatan bagi global investor yang lain untuk masuk ke dalam pembiayaan infrastruktur yang ada," ungkap Toto.

Toto berpendapat, tujuan awal dibuatnya INA dalam jangka pendek untuk meningkatkan kapitalisasi dari saham atau aset sebagai sumber alternatif pendanaan agar perusahaan misalnya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memiliki sisi pendanaan yang lebih sehat.

Sementara itu untuk jangka panjang kehadiran INA akan menjadi suatu alternatif yang cukup baik, karena akhirnya sumber pembiayaan infrastruktur itu tidak hanya bersandarkan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau Penyertaan Modal Negara (PMN).

Pembiayaan infrastruktur juga menggaet investor global yang tertarik untuk masuk dan INA dianggap sebagai inisiator yang akan mengambil peran lebih dahulu dari sisi domestik pada pembangunan infrastruktur yang ada. Dengan demikian, nantinya investor asing akan tertarik karena lembaga ini memiliki standar internasional.

Kehadiran INA yang akan memberikan suntikan dana atau membeli "sebagian" investasi membuat perusahaan tidak hanya berbasis pada instrumen utang, melainkan juga ditambah dengan instrumen ekuitas.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper