Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kapasitas Penumpang Ditambah, Bos Garuda (GIAA): Tunggu Dulu Ya

Garuda Indonesia memilih untuk menunggu kepastian dari rencana pemerintah yang ingin menambah kapasitas penumpang pesawat pada tahun depan.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 26 November 2020  |  20:33 WIB
Pesawat milik maskapai penerbangan Garuda Indonesia bersiap melakukan penerbangan di Bandara internasional Sam Ratulangi Manado, Sulawesi Utara akhir pekan lalu (8/1/2017). - Bisnis/Dedi Gunawan\n
Pesawat milik maskapai penerbangan Garuda Indonesia bersiap melakukan penerbangan di Bandara internasional Sam Ratulangi Manado, Sulawesi Utara akhir pekan lalu (8/1/2017). - Bisnis/Dedi Gunawan\\n

Bisnis.com, JAKARTA - PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) enggan berkomentar mengenai rencana penaikan kembali okupansi yang dilakukan oleh pemerintah hingga 85 persen setelah distribusi vaksin dilakukan merata pada tahun depan.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan pergerakan penumpang memang sudah mulai meningkat hingga menjelang akhir tahun ini sudah lebih dari 200 penerbangan per hari. Namun angkanya saat ini memang masih di bawah 50 persen setelah dilonggarkan okupansi maksimalnya menjadi 70 persen.

Maskapai pelat merah tersebut pun masih melakukan pengawasan pergerakannya hingga akhir tahun ini. Irfan meyakini sejumlah kebijakan saat ini dengan dipangkasnya passenger service charge (PSC) dapat turut mengerek jumlah penumpang. Namun, proyeksi angka tahun ini dan tahun depan pun belum dapat dilakukan.

"Akan lebih baik kita tunggu dulu ya. Jadi lebih baik tidak komentar dahulu," kata Irfan, Kamis (26/11/2020).

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) membuka peluang relaksasi protokol kesehatan (prokes) di sektor udara. Pada 2021, Kemenhub menyiapkan skema peningkatan batas maksimal penumpang (seat load factor/SLF) menjadi 85 persen dengan tetap menyertakan dokumen persyaratan bepergian.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menuturkan perkara protokol kesehatan di angkutan udara cukup dilematis. Pasalnya, di satu sisi perlu menjaga protokol kesehatan di sisi lainnya ingin agar aktivitas tetap produktif.

Dengan demikian, pada rute-rute tertentu dengan jumlah penerbangan yang banyak membuat dunia penerbangan bertambah sehat. Sementara, tingkat keterisian penumpang pun akan diteliti pemerintah.

"Kami akan bahas dengan Satuan Tugas bersama pakar pandemi, apakah dimungkinkan untuk ditambah [kapasitas maksimal]. Saya ilustrasikan, kalau di negara lain tak ada pembatasan 70 persen, kami memang konservatif di sini. Di negara lain bisa tetap penuh penumpangnya," kata Budi kepada Bisnis.com.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Garuda Indonesia Kemenhub maskapai penerbangan
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top