Pertumbuhan Pasok Ritel Stagnan, Tingkat Keterisian Bertambah

Saat ini tingkat keterisian properti ritel di Jakarta masih sangat tinggi sebesar 91 persen.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 03 Oktober 2019  |  17:26 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Pertumbuhan ruang properti ritel di Jakarta yang stagnan lantaran adanya moratorium membuat tingkat serapannya berada dalam kondisi yang cukup baik. Keterisiannya juga bisa dipacu oleh pemilik lahan ritel dengan mengandalkan sejumlah strategi.

Manager Research & Consultancy Coldwell Banker Commercial Angra Angreni menjelaskan bahwa saat ini tingkat keterisian properti ritel di Jakarta masih sangat tinggi sebesar 91 persen. Kendati dihadapkan dengan adanya kehadiran bisnis dagang-el, menurutnya, pasar ritel masih tetap bisa berjalan.

“Pasar ritel bakal tetap bisa berjalan karena saat ini sangat dikontribusikan oleh penyewa FnB [food and beverages], tenant specialty, dan ekspansi fast retail seperti Uniqlo, H&M, Havaianas, dan lainnya, serta tenant kesehatan dan perawatan tubuh,” ungkapnya kepada Bisnis, Kamis (3/10/2019).

Sepanjang 2019, berdasarkan data Coldwell Banker, belum ada penambahan pasokan ruang ritel sewa yang baru di area Jakarta. Penambahan pasokan justru terjadi di luar Jakarta, yaitu di Bekasi dan Depok.

“Sementara itu, di Jakarta malah terjadi pengurangan pasokan ruang ritel sewa pada semester pertama 2019 karena terdapat renovasi pada Plaza Blok M,” kata Angra.

Terakhir Jakarta mendapat tambahan pasok ritel adalah pada semester II/2018 di area Jakarta Selatan. Ritel sewa tersebut umumnya merupakan bagian dari fasilitas penunjang kawasan, atau bagian dari pengembangan mixed-use maupun superblok.

Kondisi tersebut, kata Angra, mengindikasikan bahwa kebutuhan ruang ritel sewa saat ini masih akan bertambah sejalan dengan perkembangan sektor-sektor properti lainnya terutama apartemen, dimana ruang ritel merupakan sektor properti pendukung bagi sektor lainnya.

“Jadi, memang tidak terjadi penambahan pasokan ritel sewa baru yang merupakan gedung stand-alone seperti mal-mal kebanyakan. Selain karena moratorium di Jakarta, tren ruang ritel saat ini cenderung sebagai fungsi pendukung bagi fungsi lainnya,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ritel, ruang ritel, okupansi

Editor : Zufrizal

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top