Finalisasi IK-CEPA Ditarget Oktober 2019

Indonesia mendesak percepatan finaslisasi Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA) pada Oktober 2019.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 29 Agustus 2019  |  19:28 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia mendesak percepatan finaslisasi Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA) pada Oktober 2019.

Untuk itu, delegasi kedua negara melakukan pertemuan putaran ke-9 di Jeju, Korea Selatan pada 27—30 Agustus 2019.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Iman Pambagyo menjelaskan, dalam pertemuan tersebut delegasi kedua negara berupaya keras untuk menyelesaikan berbagai isu runding terutama terkait teks draf, supaya pada putaran berikutnya hanya menyisakan pembahasan akses pasar dan penajaman program kerja sama.

“Selain itu, fleksibilitas kedua pihak diharapkan dapat melapangkan jalan bagi penyelesaian perundingan yang ditargetkan selesai tahun ini dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional agar perjanjian ini dapat memberi manfaat dan dampak positif bagi masyarakat Indonesia,” ujar Iman dalam siaran pers, Kamis (29/8/2019).

Rangkaian putaran dilaksanakan bersamaan dengan enam pertemuan kelompok kerja dan dua subkelompok kerja.

Kelompok kerja terdiri dari perdagangan barang termasuk sub kelompok kerja solusi perdagangan dan teks perdagangan barang, perdagangan jasa, investasi, ketentuan asal barang, prosedur bea cukai dan fasilitasi perdagangan (ROOCPTF), kerja sama dan pengembangan kapasitas, serta isu hukum dan kelembagaan.

Perundingan IK-CEPA dimulai dengan dibentuknya kelompok studi gabungan (JSG/joint study group) yang menghasilkan laporan JSG pada Oktober 2011. Pada periode 2012—2014, perundingan berlangsung hingga putaran ke-7 kemudian terhenti selama 5 tahun.

 Pada 19 Februari 2019, kedua negara sepakat untuk mengaktivasi kembali perundingan IK-CEPA melalui penandatanganan pernyataan bersama Menteri Perdagangan kedua negara.

Selanjutnya, penandatanganan IK-CEPA ditargetkan dilakukan pada November 2019 di sela ASEAN-Korea Commemorative Summit di Busan, Korea Selatan. Pada 2018, Korea Selatan merupakan negara tujuan ekspor dan asal impor ke-7 bagi Indonesia.

Pada tahun tersebut, perdagangan kedua negara tercatat sebesar US$18,6 miliar. Ekspor Indonesia ke Korea Selatan tercatat sebesar US$9,53 miliar. Sementara itu, impor Indonesia dari Korea Selatan tercatat sebesar US$9,08 miliar.

Dengan nilai tersebut Indonesia tercatat surplus sebesar US$443,6 juta. Selama 3 tahun terakhir, Indonesia telah menyepakati dan menandatangani tujuh perjanjian bilateral. Perjanjian tersebut yaitu Indonesia-Chile CEPA, Indonesia-EFTA CEPA, Indonesia-Australia CEPA, Indonesia-Mozambik Preferential Trade Agreement (PTA), Indonesia-Pakistan PTA Review, Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) Review, dan nota kesepahaman fasilitasi perdagangan untuk produk-produk tertentu Indonesia-Palestina.

Sementara itu, Indonesia juga masih melakukan perundingan bilateral dengan 9 mitra dagang. Perundingan tersebut yaitu Indonesia-EU CEPA, Indonesia-Turkey CEPA, Indonesia-Korea CEPA, Indonesia-Pakistan Trade in Goods Agreement (TIGA), Indonesia-Iran PTA, Indonesia-Tunisia PTA, Indonesia-Maroko PTA, Indonesia-Bangladesh PTA, dan Indonesia-Taiwan Economic Cooperation Agreement (ECA).

 “Semua penjanjian ini merupakan upaya dalam membuka akses pasar ke negara mitra dagang tersebut. Selain itu, Perundingan IK-CEPA diharapkan menjadi salah satu tambahan capaian Pemerintah Indonesia pada 2019,” pungkas Iman.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
korea selatan, kerja sama perdagangan, IK-CEPA

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top