Pangan dan BBM Nonsubsidi Jadi Pendorong Deflasi Februari

Laju Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Februari diperkirakan akan mengalami deflasi seiring dengan terkendalinya harga-harga barang pangan dan bahan bakar nonsubsidi. 
Hadijah Alaydrus | 01 Maret 2019 03:40 WIB
Pekerja menempel gambar informasi tentang BBM jenis Pertalite jelang uji pasar di SPBU Coco, Abdul Muis, Jakarta, Kamis (23/7). PT Pertamina (Persero) secara resmi akan menjual BBM jenis Pertalite dengan kandungan 'Research Octane Number' (RON) 90 pada Jumat (24/7) dan akan didistribusikan di 103 SPBU dengan target penjualan rata-rata pada minggu pertama sebanyak 500.000 liter per hari. - ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA—Laju Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Februari diperkirakan akan mengalami deflasi seiring dengan terkendalinya harga-harga barang pangan dan bahan bakar nonsubsidi. 

Konsensus dari survei ekonom memperkirakan deflasi IHK Februari 2019 akan mencapai nilai tengah 0,04% (month to month/mtm). Sementara itu, laju tahunannya per Februari ini diperkirakan terjaga di kisaran 2,75% (year on year/yoy).

Ekonom PT Bank Mandiri Tbk. Andry Asmoro menuturkan deflasi yang terjadi pada Februari ini dipicu oleh penurunan harga bahan pangan, seperti daging ayam ras, telur, bawang merah, cabai merah, cabai rawit, minyak goreng, dan gula

"Terlebih lagi, relatif stabilnya inflasi tahunan pada Februari 2019 berkaitan dengan perbaikan produktivitas dan tingginya pasokan bahan pangan. Ini berkat distribusi pangan dan manajemen pasokan yang lebih baik, agresifnya operasi pasar, dan implementasi Harga Eceran Tertinggi," papar Andry, Kamis (28/02/2019).

Alhasil, volatilitas harga bahan pangan terkendali secara efektif.  Sementara itu, Andry melihat penurunan bahan bakar nonsubsidi turut menjadi kontributor signifikan dalam deflasi pada Februari ini. 

Kondisi ini diikuti oleh perkiraan nihilnya kenaikan harga administered prices atau harga-harga yang diatur pemerintah seiring dengan komitmen kuat pemerintah menahan harga bahan bakar subsidi dan tarif listrik. 

Andry memperkirakan inflasi inti akan tetap stabil pada level 3,06% pada Februari 2019. "Ke depannya, kami melihat laju inflasi akan mencapai 3,80% pada akhir 2019, atau sesuai kisaran sasaran BI tahun ini di 2,5%-4,5%," ujar Andry. Proyeksi ini lebih tinggi dibandingkan proyeksi terkini BI yang meyakini inflasi pada tahun ini akan berada di bawah titik tengah kisaran target BI atau tepatnya di bawah 3,5%. 

Andry menegaskan Bank Mandiri melihat ada pengaruh nilai tukar (exchange rate pass-through) terhadap harga barang-barang dan tekanan di sisi pasokan. 

Bank Indonesia (BI) telah melihat potensi terjadinya inflasi sejak minggu ketiga Februari. Survei Pemantauan Harga (SPH) melihat adanya deflasi pada Februari ini sebesar 0,07% (month to momth/mtm). Sementara itu, inflasi tahunnya pada Februari 2019 sampai minggu ketiga mencapai 2,58%.  

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan inflasi yang terkendali ini dipicu oleh inti ini yang akan tetap rendah karena permintaan dari dalam negeri masih bisa dipenuhi dari pasokan yang ada. 

"Jadi kalau liat dari agregat supply dan penawaran, agregat supply masih akan lebih tinggi dai permintaan atau output gapnya masih negatif," ungkap Perry, minggu lalu (22/02).

Dengan demikian, dia masih melihat tekanan inflasi inti tidak akan besar meskipun permintaan diperkirakan meningkat tahun ini. 

Sementara itu, ekspektasi inflasi tetap terjangkar rendah dan inflasi dari luar negeri akibat nilai tukar rupiah atau imported inflation tetap rendah. 

"Jadi ini mengkonfirmasi bahwa inflasi akhir tahun, insya Allah, akan lebih rendah dari 3,5%," tegas Perry. 

 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga BBM, Inflasi, deflasi

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup