Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Moody's Pangkas Outlook Obligasi China, PBOC Langsung Beri Dukungan ke Yuan

Bank Sentral China (PBOC) meningkatkan dukungannya terhadap yuan melalui kurs referensi harian setelah Moody's memangkas outlook obligasi China menjadi negatif.
Seorang pejalan kaki melewati depan Gedung Peoples Bank of China/ Bloomberg
Seorang pejalan kaki melewati depan Gedung Peoples Bank of China/ Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - China meningkatkan dukungannya terhadap yuan melalui kurs referensi harian. Hal ini dilakukan lantaran sentimen pasar terpukul setelah Moody's Investors Service memangkas prospek kredit negara tersebut. 

Bank sentral China (PBOC) menetapkan kurs referensi harian pada 7,1140 per dolar AS, dibandingkan perkiraan rata-rata pada 7,1486 dalam survei Bloomberg dengan para analis dan pedagang.

Kesenjangan antara keduanya terbesar dalam lebih dari dua minggu, tanda bahwa China  meningkatkan upayanya untuk mencegah penurunan mata uangnya. 

“Para pembuat kebijakan hanya ingin mengikuti pesan yang sama, yaitu menginginkan yuan yang stabil dan tidak membiarkan Moody's menggagalkan upaya para pembuat kebijakan,” terang ahli strategi di Oversea Chinese Banking Corp, Christopher Wong, seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (6/12/2023). 

Wong juga mengungkapkan bahwa pasar tidak dapat mengesampingkan para pembuat kebijakan untuk mengambil tindakan jika ada volatilitas yang berlebihan dalam yuan. 

Sebelumnya, Moody's Investors Service menurunkan prospek obligasi China menjadi negatif pada Selasa (5/12) dengan alasan peningkatan penggunaan stimulus fiskal dan penurunan pasar properti.

Yuan sendiri telah melemah naik dalam perdagangan dalam negeri maupun luar negeri saat semalam, di tengah sentimen yang rapuh dan dolar yang lebih kuat, bahkan setelah beberapa bank BUMN China melepaskan dolarnya. 

Pada Oktober 2023, Presiden China Xi Jinping juga memberi isyarat bahwa perlambatan pertumbuhan yang tajam dan risiko deflasi yang masih ada tidak akan ditoleransi. Hal ini lantaran pemerintah meningkatkan defisit anggaran utama hingga yang terbesar dalam tiga dekade.

Adapun, pada tingkat 3,8% pada 2023, rasio defisit terhadap PDB jauh di atas batas yang telah lama ditetapkan yaitu sebesar 3%.

“Tekanan depresiasi terhadap yuan setidaknya dalam jangka pendek kemungkinan akan terus berlanjut,” terang ahli strategi makro Asia di Societe Generale SA di Hong Kong, Kiyong Seong.

Ia juga menuturkan bahwa PBOC belum seagresif beberapa bulan terakhir, walaupun penetapan tersebut lebih kuat dari perkiraan. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper