Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Ancaman Resesi 2023, BI: Kami Bukan Menakut-nakuti, Tapi..

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan pihaknya bukan mau menakut-nakuti soal ancaman resesi 2023. Ini penjelasannya.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 31 Oktober 2022  |  11:17 WIB
Ancaman Resesi 2023, BI: Kami Bukan Menakut-nakuti, Tapi..
Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo - JIBI/Felix Jody Kinarwan
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo buka suara soal ancaman resesi global yang kemungkinan bakal terjadi pada 2023.

Menurutnya, ketidakpastian global yang terjadi akibat perang Rusia vs Ukraina membuat harga komoditas pangan dan energi bisa meningkat di masa depan.

"Simbolnya dunia sedang tidak baik-baik saja. Kita bukan menakuti, tetapi bagaimana kita memitigasi karena sekarang semua negara sedang berperang dengan ancaman yang sama," ujarnya saat memberikan kata sambutan di acara Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) Sulawesi Tengah, Senin (31/10/2022).

Dia mengatakan saat ini hampir seluruh bank sentral di berbagai negara, khususnya negara maju, telah menaikkan suku bunga acuan.

Apapun risiko yang dihadapi, lanjutnya, para pengambil kebijakan menempatkan pertumbuhan ekonomi yang melambat sebagai prioritas kedua.

"Karena masalah stabilitas itu tidak ada kata tawar. Tidak ada pertumbuhan yang tinggi jika itu diikuti dengan harga yang tinggi sehingga mengikuti daya beli," imbuhnya.

Dody menegaskan Bank Indonesia sudah menerima mandat untuk menjaga laju inflasi. Menurutnya, Bank Indonesia akan mencoba mengendalikan inflasi tergantung source atau akar permasalahan yang ada di lapangan.

Dia menuturkan strategi pengendalian inflasi di Indonesia bukan semata-mata dengan menaikkan suku bunga. Pasalnya, kata dia, ada berbagai faktor yang mendorong laju inflasi, contohnya pasokan dan distribusi masing-masing komoditas.

"Kalau masalahnya harga cabai naik karena terganggu hilang pasokannya, Masalah ikan yang berkurang. Kalau secara nasional itu menjadi permasalahan pangan, apakah tepat jika suku bunga kita naikkan? Apakah kalau suku bunga kita naikkan pasokan bertambah? Apakah tidak membuat beban ke perekonomian menjadi berlebih?" ucapnya.

Sebelumnya, Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla menegur Menteri Keuangan Sri Mulyani agar tidak menakut-nakuti masyarakat atas situasi ekonomi tahun depan.

"Saya bilang ke SMI [Sri Mulyani] jangan kasih takut orang, tahun depan akan kiamat. Saya telepon, jangan gitu. Jangan kasih takut," ujar JK dalam acara makan malam spesial HUT Kalla Group di Grand Indonesia Kempinski Ballroom, Jumat (28/10/2022).

Dia mengatakan Indonesia merupakan negara yang luas. Dengan demikian, dia menilai krisis yang terjadi mungkin tidak akan dirasakan oleh semuanya.

JK juga mengingatkan Indonesia harus menghadapi semua persoalan yang muncul, tak terkecuali krisis ekonomi, krisis pangan, bahkan krisis energi.

"Mau ada masalah kita hadapi, tapi kita jangan takut. Negeri ini lengkap. Tidak ada krisis ini, dimana krisis energi? Di mana pangan? beras cukup," ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bank Indonesia Resesi Inflasi Perang Rusia Ukraina
Editor : Feni Freycinetia Fitriani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top