Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Bisnis Ritel Bisa Tumbuh 4 Persen pada 2022, Ini Alasannya

Nielsen Indonesia menilai bisnis ritel bisa tumbuh 4 persen pada 2022.
Indra Gunawan
Indra Gunawan - Bisnis.com 10 Oktober 2022  |  07:51 WIB
Bisnis Ritel Bisa Tumbuh 4 Persen pada 2022, Ini Alasannya
Konsumen memilih barang kebutuhan di salah satu gerai supermarket Giant di Jakarta, Minggu (23/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Nielsen Indonesia menilai terkendalinya pandemi Covid-19 membuat keyakinan konsumen dalam belanja kembali meninggi. Sektor ritel yang terdampak parah selama 2 tahun belakangan akan kembali bergairah, paling tidak pertumbuhannya sekitar 4 persen pada 2022.

“Dalam 2 tahun pandemi ritel kita low single digit. Boleh dibilang ritel roler coster, setiap ada PPKM, tiarap. Tapi tahun ini kita lebih stabil di ritel. Kita 2 bulan lalu lakukan survei, konsumen kita lebih pede, waktu dulu masih banyak yang masih ngeluh,” ujar kata Executive Director Nielsen Indonesia Wiwi Sasongko, Minggu (9/10/2022).

Wiwi tak menampik dampak penaikan bahan bakar minyak (BBM) akan sedikit berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. “Kita melihat konsumen lebih optimis meski hati-hati, nyari promo dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Bahkan, menurut dia, menjelang akhir tahun dan tahun depan kecenderungan pola belanja pun akan berubah. Yang tadinya lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan dasar, ke depan akan mulai ke kebutuhan sekunder.

“Nah untuk akhir tahun dan ke depan mulai kebutahnnya ada dua tren. Satu kebutuhan feeling good seperti makan di luar yang membuat happy, wisata juga. Kedua kebutuhan looking good seperti belanja untuk penampilan. Belanja kosmetik dan lain sebagainya,” tutur Wiwi.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengatakan bahwa inflasi akan terus menjadi ancaman ritel. Apalagi, kata dia, rupiah pun sedang melemah saat ini sehingga sedikit banyak akan mengganggu pertumbuhan ritel.

“Kalau bicara inflasi musuhnya ritel. Kenapa? Karena ada pengurangan daya beli. Nilai tukar rupiah kita turun. Jika orang membeli dapat 2 barang, sekarang 1 barang dan itu akan mengurangi produktivitas ritel,” ujar Roy, Minggu (9/10/2022).

Roy menyatakan bahwa peritel saat ini sedang berkonsentrasi untuk menjaga arus kas atau cash flow. Hal tersebut, menurut Roy menjadi salah satu sumber agar ritel bisa ekspansi ke depannya.

“Tanpa cash flow jangan mimpi profit. Kemudian ekspansi karena satu-satunya pertumbuhan dalam ritel adalah expansion,” ujar dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ritel ritel modern nielsen aprindo
Editor : Rio Sandy Pradana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top