Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pasar Furnitur Domestik Bisa Terdongkrak Belanja Pemerintah

Sejauh ini produk lokal yang dijual di pasar domestik hanya berkisar 5 persen dari total produksi, 95 persen sisanya dikapalkan ke pasar ekspor. Sebaliknya, alokasi anggaran pengadaa pemerintah berpotensi mengerek volume domestik tersebut.
Ruang produksi pabrik mebel Raisa House of Excellence di Jepara, Jawa Tengah. (Foto: Istimewa)
Ruang produksi pabrik mebel Raisa House of Excellence di Jepara, Jawa Tengah. (Foto: Istimewa)

Bisnis.com, JAKARTA - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) berharap dorongan belanja pemerintah untuk produk lokal sebesar Rp400 triliun pada tahun ini dapat mendongkrak pasar domestik.

Sejauh ini produk lokal yang dijual di pasar domestik hanya berkisar 5 persen. Sedangkan 95 persennya dikapalkan ke pasar ekspor. Ketua Presidium HIMKI Abdul Sobur mengatakan dengan dorongan belanja pemerintah, pasar domestik dapat terdongkrak hingga 16 persen dari saat ini hanya 5 persen.

"Saya memprediksikan di angka 16 persen karena jelas sekali kalau mereka disiplin, BUMN kementerian terkait, Pemda, betul-betul memilih [barang] TKDN [tingkat komponen dalam negeri], bukan impor, akan terjadi perubahan yang drastis," kata Sobur kepada Bisnis, Rabu (13/4/2022).

Namun, lanjutnya, hal itu perlu diimbangi dengan pengawasan alokasi anggaran agar sesuai dengan kebijakan yang dicanangkan.

Sobur juga mengatakan peluang pasar tersebut akan meningkatkan permintaan di dalam negeri, sehingga pelaku usaha mulai dapat berancang-ancang memecah fokus produksi, yakni untuk pasar ekspor dan domestik.

"Dengan kebijakan TKDN, mau tidak mau, kami harus mulai buat showroom, toko, dan kapasitas produksinya pun harus ditambah untuk support permintaan yang ada di dalam negeri," ujarnya.

Sepanjang tahun lalu, ekspor mebel dan kerajinan mencapai US$3,42 miliar tumbuh 25,83 persen dibandingkan 2020. Tahun ini nilai ekspor ditargetkan sebesar US$3,69 miliar, hingga mencapai US$5 miliar pada 2025.

Sementara itu impor mebel dan kerajinan sepanjang tahun lalu tercatat sebesar US$1,18 miliar, tumbuh 25,96 persen dibandingkan 2020. Sobur mengatakan serbuan produk impor perlu diwaspadai terutama jelang pasar Lebaran dimana permintaan naik sekitar 10 persen dari bulan-bulan biasanya.

"Biasanya [permintaan] bisa naik sampai 10 persen dari normal. Itu terindikasi, terlihat dari laju pertumbuhan impor tahun lalu, di mebel dan kerajinan," ujarnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Reni Lestari
Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper