Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Banyak Relaksasi, Angkasa Pura I: Penerbangan Internasional Menantang

PT Angkasa Pura I (persero) atau AP I tak banyak berharap pada pergerakan internasional untuk menopang kinerja pada tahun ini.
Salah satu bentuk layanan pelanggan (customer service) virtual di Bandara Lombok yang dikelola PT Angkasa Pura I./Dok. Istimewa
Salah satu bentuk layanan pelanggan (customer service) virtual di Bandara Lombok yang dikelola PT Angkasa Pura I./Dok. Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – PT Angkasa Pura I (persero) atau AP I tak mengandalkan pergerakan internasional sebagai penopang kinerja pada tahun ini kendati sejumlah relaksasi persyaratan perjalanan dan pembukaan jalur internasional telah dirilis.

Direktur Utama AP I Faik Fahmi mengatakan tidak banyak berharap terhadap pemulihan kinerja penumpang internasinal pada tahun ini karena masih adanya pembatasan yang cukup ketat di beberapa negara. Walau dalam beberapa bulan ini, lanjutnya, sejumlah negara mengumumkan lebih terbuka terhadap pergerakan wisatawan asing.

Dia berpendapat masih ada faktor lain yang perlu diantisiapasi adalah terkait dengan daya beli internasional untuk bepergian ke luar negeri. Daya beli ini juga terkait dengan dampak ekonomi dari pandemi Covid-19.

Menurutnya, kendati wisatawan asing bergerak masuk ke Indonesia tetapi tidak bisa mengharapkan dari negara dengan penerbangan lebih dari lima jam. Wisatawan yang masuk akan berasal dari negara-negara yang tidak terlalu jauh dari Indonesia.

“Kami secara realistis tidak mengharapkan dari internasional dalam waktu dekat. Memang di Bali sudah membuka penerbangan internasional tapi belum signifikan, semoga ketentuan baru tanpa karantina bisa mendorong lebih baik lagi. Namun, jangka pendek tahun ini kami fokus mengelola pergerakan domestik,” ujarnya, Selasa (15/3/2022).

Faik menilai penerbangan di bandara domestik besar kelolaanya, yakni Surabaya dan Makassar yang akan mendorong pemulihan hingga penerbangan di Bali dibuka sepenuhnya. Penopang pergerakan domestik ini akan berorientasi ke arah wisata atau leisure.

Terlebih berdasarkan data yang ada, bandara yang bergantung kepada pergerakan internasional cukup menderita. Dia mencontohkan pengelola bandara Incheon di Korea Selatan masih rendah angka pemulihannya atau berada di level 10 persen.

“Implikasi dengan adanya tren global terhadap AP I, kami melihat pemulihan masih tidak stabil. Kami belum tahu kapan Covid-19 selesai. Salah satu hal paling sulit industri aviasi adalah memprediksi masa depan. Tidak ada yang tahu. Hanya tuhan yang tahu kapan Covid-19 selesai,” imbuhnya.

AP I menilai tantangan yang masih dihadapi industri penerbangan adalah permintaan pasar bergerak dinamis dengan berbagai situasi global serta regulasi yang diterbitkan oleh pemerintah. Secara positif AP I memilih konservatif dalam perencanaan sumber daya serta dituntut untuk lebih gesit beradaptasi menghadapi perkembangan yang lebih cepat.

“Yang jelas aturan baru tak perlu PCR dan Antigen, kemudian adanya gelaran MotoGP memang akan mendorong trafik, Agenda G20, pembukaan penerbangan internasional, selesainya pengembangan 10 bandara. Ini semuanya momentum pemulihan kinerja angkasa Pura I. Kami juga optimistis pada 2022 mulai ada pemulihan,” tekannya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper