Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Stok Pangan, Pemerintah Diminta Waspada di Awal 2021

Pemerintah harus mewaspadai kesiapan pasokan beras dan bahan pokok lainnya untuk Ramadan dan Idulfitri yang akan jatuh pada April dan Mei.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 30 November 2020  |  20:30 WIB
Pekerja berada di gudang Bulog di Jakarta, Rabu (2/9/2020). Bisnis - Nurul Hidayat
Pekerja berada di gudang Bulog di Jakarta, Rabu (2/9/2020). Bisnis - Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Alih-alih mengkhawatirkan stok beras Bulog hingga akhir tahun ini, pemerintah justru diminat mengantisipasi pasokan bahan pokok pada awal 2021.  

Pasalnya, stok beras Bulog yang saat ini jauh lebih rendah dibandingkan volumenya setahun lalu diperkirakan tidak akan terlalu memengaruhi stabilitas harga pada akhir tahun. 

Dewan Pembina Perhimpunan Ekonom Pertanian Indonesia (Perhepi) Bayu Krisnamurthi mengatakan stok beras di angka 1,1 juta ton cukup aman mengingat kondisi iklim bakal cukup mendukung produksi. La Nina ringan yang dihadapi Indonesia dia sebut bakal membuat produksi tetap terjaga.

“Saya kira jumlah stok tersebut cukup aman. Mulai Januari-Februari 2021 tampaknya sudah akan mulai ada panen dan akan terus meningkat produksi hingga April Mei,” kata Bayu, Senin (30/11/2020).

Namun, Bayu memberi catatan tersendiri untuk kesiapan pasokan beras dan bahan pokok lainnya untuk Ramadan dan Idulfitri yang akan jatuh pada April dan Mei. Selain itu, risiko bencana alam lokal juga perlu menjadi perhatian demi menghindari gangguan distribusi.

“Risiko lain kemungkinan bersifat lokal, yaitu terjadi banjir atau gangguan logistik karena curah hujan yang agak besar di beberapa daerah dan gangguan produksi karena distribusi pupuk,” lanjutnya.

Adapun untuk minyak goreng yang memperlihatkan tren kenaikan harga akibat pergerakan harga CPO global, Bayu memperkirakan harga yang relatif tinggi berpotensi terus berlanjut sampai kuartal pertama 2021.

Kondisi ini disebutnya terjadi lantaran pasar internasional masih akan mencari minyak sawit akibat produksi kedelai di produsen utama yang tidak terlalu baik.

Berkaitan dengan pengaruhnya terhadap harga di pasar dalam negeri, Bayu mengatakan mekanisme pengenaan bea ekspor progresif bisa meredam kenaikan harga yang terlalu tinggi.

“Memang tidak dapat dipungkiri kenaikan harga minyak goreng mungkin saja terjadi, tetapi perkiraan saya seharusnya tidak terlalu besar,” kata Bayu.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bulog harga pangan Stok Beras
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top