Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

PDB Indonesia Masuk Zona Merah, Konsumsi Rumah Tangga Minus 5,51 Persen

Komponen konsumsi rumah tangga mengalami kontraksi kecuali komponen perumahan dan perlengkapan rumah tangga dan kesehatan dan pendidikan.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 05 Agustus 2020  |  11:46 WIB
Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kanan) saat mengikuti KTT Luar Biasa G20 secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Kamis (26/3 - 2020). KTT tersebut membahas upaya negara/negara anggota G20 dalam penanganan COVID/19. Biro Pers dan Media Istana
Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kanan) saat mengikuti KTT Luar Biasa G20 secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Kamis (26/3 - 2020). KTT tersebut membahas upaya negara/negara anggota G20 dalam penanganan COVID/19. Biro Pers dan Media Istana

Bisnis.com, JAKARTA - Struktur produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal II/2020 menurut pengeluaran mengalami perubahan signifikan.

Kepala BPS Suhariyanto menegaskan seluruh komponen pengeluaran mengalami kontraksi pada kuartal kedua kali ini.

Dari catatan BPS, komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga (PK-RT) yang mencakup lebih dari separuh PDB Indonesia, tumbuh negatif 5,51 persen.

"Komponen konsumsi rumah tangga mengalami kontraksi kecuali komponen perumahan dan perlengkapan rumah tangga dan kesehatan dan pendidikan," ujar Suhariyanto.

Perumahan dan perlengkapan rumah tangga tumbuh postif 2,36 persen pada kuartal II/2020, diikuti oleh kesehatan dan pendidikan sebesar 2,02 persen.

"Untuk kesehatan bisa ditunjukan oleh klaim bruto BPJS kesehatan," ungkapnya.

Kontraksi terdalam ditunjukkan oleh komponen transportasi dan komunikasi sebesar -15,33 persen. Hal ini dipicu oleh penurunan jumlah angkutan penumpang angkutan kereta, kapal laut dan angkutan udara.

Posisi PK-RT diikuti oleh komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto(PMTB) tumbuh minus 8,61 persen, kemudian komponen ekspor barang dan jasa minus 11,66 persen.

Menurut BPS, seluruh komponen PMTB mengalami kontraksi cukup dalam. Kontraksi tertinggi dialami oleh kendaraan sebesar 34,12 persen dan peralatan lainnya 26,09 persen.

"Komponen kendaraan karena ada penurunan di sepeda motor dan mobil."

Komponen pengeluaran konsumsi pemerintah (PK-P) mengalami kontraksi sebesar 6,9 persen dipicu oleh kontraksi belanja barng dan jasa.

"Banyak sekali penundaan dan pembatalan K/L karena pandemi Covid-19 yang tidak memungkinkan kegiatan tersebut," ujarnya.

Selain itu, realisasi belanja pegawai juga mengalami penurunan karena eselon 1 dan 2 tidak mendapatkan THR pada Lebaran tahun ini.

Sementara itu, ekspor barang dan jasa mengalami kontraksi sebesar 11,66 persen. Impor barang dan jasa terkontraksi lebih dalam sebsar 16,96 dipicu oleh turunnya impor jasa sebesar 41,36 persen.

Adapun, komponen pengeluaran konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) terkontraksi sebesar -7,76 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi indonesia bps
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top