Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dampak COVID-19, ADB Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Asia ke 2,2 Persen

Pertumbuhan ekonomi negara-negara regional Asia akan menurun tajam pada tahun 2020 karena efek pandemi virus corona baru (COVID-19).
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 03 April 2020  |  12:24 WIB
Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia Maria Yuliana Benyamin (dari kiri) berbincang dengan Vice President Asian Development Bank (ADB) Bambang Susantono, Deputy Chief Economist Joseph Zveglich, Direktur Bisnis Indonesia Gagaskreasitama Chamdan Purwoko, Professor and Author of Indonesia and ADB:Fifty Years of Partnership Peter McCawley dan Country Director for Indonesia ADB Winfried Wicklein disela-sela kunjungannya ke Kantor Redaksi Bisnis Indonesia di Jakarta, Jumat (6/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia Maria Yuliana Benyamin (dari kiri) berbincang dengan Vice President Asian Development Bank (ADB) Bambang Susantono, Deputy Chief Economist Joseph Zveglich, Direktur Bisnis Indonesia Gagaskreasitama Chamdan Purwoko, Professor and Author of Indonesia and ADB:Fifty Years of Partnership Peter McCawley dan Country Director for Indonesia ADB Winfried Wicklein disela-sela kunjungannya ke Kantor Redaksi Bisnis Indonesia di Jakarta, Jumat (6/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi negara-negara regional Asia akan menurun tajam pada tahun 2020 karena efek pandemi virus corona baru (COVID-19).

Proyeksi tersebut dirilis oleh Asian Development Outlook (ADB) dalam publikasi ekonmi tahunannya, Asian Development Outlook (ADO) 2020. ADB memperkirakan penurunan ini baru akan pulih di tahun 2021 mendatang.

Dalam rilisnya, ADB memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia menjadi 2,2 persen pada tahun 2020 dari proyeksi sebelumnya pada bulan September 2019 sebesar 5,5 persen, sekaligus lebih rendah dari pertumbuhan tahun sebelumnya yang mencapai 5,2 persen.

ADB memproyeksinya pertumbuhan ekonomi kembali meningkat menjadi 6,2 persen pada tahun 2021 dengan asumsi bahwa wabah berakhir dan aktivitas menjadi normal.

Negara-negara berkembang di Asia, yang tidak termasuk Hong Kong, Korea Selatan, Singapura, dan China Taipei, diperkirakan akan tumbuh 2,4 persen tahun ini, lebih rendan dibandingkan dengan 5,7 persen pada 2019, sebelum rebound menjadi 6,7 persen tahun depan.

Kepala ekonom ADB Yasuyuki Sawada mengatakan prospek ekonomi global serta dan regional sangat penuh ketidakpastian saat ini akibat pandemi global. Pertumbuhan bisa menjadi lebih rendah dan pemulihannya lebih lambat dari yang diperkirakan saat ini.

“Untuk alasan ini, diperlukan upaya yang kuat dan terkoordinasi untuk mengendalikan pandemi COVID-19 dan meminimalkan dampak ekonominya, terutama pada negara yang paling rentan,” kata Sawada dalam keterangan resminya.

Institusi finansial Asia ini memperkirakan kontraksi aktivitas industri, jasa, penjualan ritel, dan investasi di China pada kuartal pertama karena wabah COVID-19 akan menyeret pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Negeri Panda tersebut turun ke 2,3 persen tahun ini. Pertumbuhan akan pulih ke level di atas 7,3 persen pada tahun 2021 sebelum kembali ke pertumbuhan normal.

Di India, langkah-langkah untuk menahan penyebaran virus dan lingkungan global yang lebih lemah tahun ini akan mengimbangi manfaat dari pemotongan pajak dan reformasi sektor keuangan. Pertumbuhan di India diperkirakan melambat menjadi 4,0 persen pada tahun fiskal (TA) 2020 sebelum menguat menjadi 6,2 persen pada 2021.

Di Indonesia sendiri, ADB memangkas proyeksi pertumbuhan PDB tahun 2020 menjadi 2,5 persen, sebelum rebound kembali ke 5,0 persen pada tahun 2021.

Yang mendasari pelemahan di Asia adalah lingkungan eksternal yang memburuk akibat dari pertumbuhan yang stagnan atau menyusut di negara tujuan ekspor utama seperti Amerika Serikat, zona euro, dan Jepang. Beberapa eksportir komoditas dan minyak diperkirakan tertekan oleh kejatuhan harga komoditas. Harga minyak Brent diperkirakan mencapai US$35 per barel tahun ini secara rata-rata, turun dari US$64 pada 2019.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asian development bank Virus Corona EKONOMI ASIA
Editor : Rivki Maulana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top