Kecelakaan Maut Tol Cipularang, Kemenhub Temukan Keanehan di Buku Uji KIR

Saat pengujian kedua, bak truk milik perusahaan itu sudah ditandai oleh penguji dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta untuk dipotong dan dinormalkan. 
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 05 September 2019  |  16:01 WIB
Kecelakaan Maut Tol Cipularang, Kemenhub Temukan Keanehan di Buku Uji KIR
Petugas Traffic Accident Analysis (TAA) Polda Jabar melakukan olah TKP kecelakaan beruntun di KM 91 Tol Cipularang, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Selasa (3/9/2019). Olah TKP dilakukan untuk mengetahui penyebab kecelakaan beruntun yang melibatkan 21 kendaraan dan menyebabkan delapan orang tewas pada Senin (2/9/2019). - ANTARA/Raisan Al Farisi

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Perhubungan mendapatkan temuan buku uji KIR milik operator truk pengangkut tanah yang terlibat kecelakaan di tol Cipularang KM 91 pada Senin (2/9/2019) berbeda dengan kondisi truk di lapangan. 

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi mengatakan bahwa temuan itu hasil inspeksi langsung ke lokasi operator truk pengangkut tanah (dump truck) yang terlibat dalam kecelakaan di Tol Cipularang. Dalam kecelakaan beruntun di Tol Cipularang, sebanyak 8 orang tewas dipicu truk yang membawa tanah tergelincir akibat kelebihan dimensi dan muatan atau over dimension overload (ODOL).

Saat buku uji KIR dikeluarkan, menurutnya, dimensi truk sesuai ketentuan dalam buku uji KIR. "Artinya, saat truk masuk ke pengujian baknya sesuai dengan ketentuan yang ada, tapi begitu keluar baknya diganti," katanya seusai mengunjungi kantor perusahaan truk yang yterlibat kecelakaan di tol Cipularang di daerah Marunda Jakarta Utara seperti dikutip dari siaran pers, Kamis (5/9/2019).

Saat pengujian kedua, paparnya, bak truk milik perusahaan itu sudah ditandai oleh penguji dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta untuk dipotong dan dinormalkan. 

Oleh karena itu, dia mengharapkan perusahaan segera memotong bak sesuai arahan dan penandaan oleh Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Seperti diketahui, semua truk milik perusahaan itu melebihi dimensi dengan kelebihan tinggi bak hingga 70 cm.

Selain itu, dia menyoroti adanya dugaan pemalsuan buku KIR sehingga ada ketidaksesuaian dengan kondisi fisik kendaraannya.

“Dalam waktu dekat saya minta minggu depan semua operator kendaraan dump truck di Jakarta dan sekitarnya akan kita kumpulkan," tuturnya.

Dia akan mencari titik temu dan bernegosiasi dengan para pemilik truk yang melanggar aturan  ODOL. Bila tidak menemukan kesepakatan dengan perusahaan truk, dia akan langsung memotong kelebihan dimensi truk. "Kira-kira toleransinya bisa berapa lama intinya menormalisasikan kembali dump truck,” urainya.

Saat ini, dump truck yang ada di Jabodetabek dan Banten banyak yang melanggar batas beban dan dimensinya.

Dia meminta komitmen Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Dinas Perhubungan Tangerang, dan sekitarnya untuk menindak pelanggaran itu. "Kalau memang tidak lolos, tidak perlu diloloskan, jangan dikasih buku KIR," tegasnya.

Bila Dishub daerah sudah bekerja sesuai regulasi, dia yakin sulit peluang para operator truk yang melanggar untuk mendapatkan buku KIR.

Budi akan berkoordinasi dengan Kepolisian, Badan Pengatur Jalan Tol (BPTJ), PT Jasa Marga Tbk, Kementerian PUPR, KNKT untuk merumuskan permasalahan dan solusi terkait kasus yang selama ini sering terjadi di tol Cipularang KM 91 dan sekitarnya.

“Intinya saya merencanakan tahun 2020 jalan tol sudah Zero ODOL, jadi tahun 2020 tidak ada truk yang mengalami kecelakaan seperti ini atau ada truk yang kelebihan muatan yang lewat jalan tol," katanya.

Dia meminta BPJT untuk membuat Jembatan Timbang Elektronik atau Weight in Motion (WIM) untuk mendeteksi atau menimbang setiap angkutan barang di pintu-pintu tol sehingga kendaraan ODOL dapat terdeteksi begitu masuk tol.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tol cipularang, kecelakaan lalu lintas

Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top