Industri Tekstil Untung Sekaligus Rugi Karena Perang Dagang

Ekspor benang pintal asal Indonesia cukup besar menunju Negeri Panda.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 21 Mei 2019  |  13:22 WIB
Industri Tekstil Untung Sekaligus Rugi Karena Perang Dagang
Pekerja mengawasi mesin bordir komputer di rumah produksi bordir di Jakarta, Senin (15/10/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Perang dagang antara Amerika Serikat dan China memberikan dampak beragam ke industri tekstil dan produk tekstil Indonesia. Produsen tekstil Tanah Air berpotensi bisa mendongkrak ekspor ke AS menggeser produsen China, tetapi pasar nasional bisa makin kebanjiran garmen asal Negeri Tiongkok.

Beberapa pekan terakhir, AS dan China makin agresif melakukan aksi saling balas penerapan bea masuk yang tinggi untuk komoditas impor dari kedua negara. AS mengenakan bea masuk hingga 25% terhadap 5.700 barang—termasuk produk konsumsi—dari China, yang akan berlaku pada 1 Juni 2019. Sebaliknya, China mengenakan tarif impor tambahan atas produk komponen teknologi, industri, gandum, kacang tanah, gula, dan buah beri dari AS.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat mengatakan, pengenaan bea masuk 25% oleh AS terhadap tekstil dan produk tekstil (TPT) asal China berpeluang mendatangkan keuntungan bagi pelaku industri TPT Indonesia. Pasalnya, permintaan TPT asal Indonesia oleh AS akan meningkat seiring dengan peralihan negara tujuan impor, setelah Beijing dikenai bea masuk tinggi oleh Washington.

“Porsi ekspor kami ke AS tentu saja akan meningkat, karena hampir 40% ekspor kami menuju AS. Ceruk keuntungan tentu saja muncul dari kondisi ini,” jelasnya kepada Bisnis, pekan lalu.

Kendati demikian, dia melihat terdapat ancaman yang tak kalah besar dari meningkatnya eskalasi perang dagang. Pasalnya, ekspor benang pintal asal Indonesia cukup besar menunju Negeri Panda.

Menurutnya, dengan menurunnya permintaan AS terhadap TPT China, terdapat potensi permintaan benang pintal asal RI dari negara tersebut turut terkoreksi.

Di sisi lain, ancaman lain justru datang dari lonjakan impor produk jadi asal China. Selama ini, lanjut Ade, gempuran produk tekstil jadi asal China telah menggerus industri TPT Indonesia.

Menurutnya, dengan adanya pengenaan bea masuk yang tinggi terhadap produk TPT China di AS, negara dengan produk domestik bruto terbesar di Asia itu akan mengalihkan pasarnya ke negara lain.

“Indonesia masuk sebagai negara yang potensial terkena limpahan ekspor China. Terlebih, selama ini kita bisa melihat impor pakaian jadi cukup leluasa masuk ke Indonesia baik melalui e-commerce maupun pusat logistik berikat [PLB].”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tekstil

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top