Pascagempa, Properti Lombok Perlahan Bangkit

Sebelum gempa, okupansi hotel di Lombok bisa mencapai 70 persen-80 persen. Pascagempa hingga April lalu baru mencapai 50 persen-60 persen, sedangkan pada bulan Puasa ini hanya di 20 persen-30 persen,
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 21 Mei 2019  |  13:18 WIB
Pascagempa, Properti Lombok Perlahan Bangkit
Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi Sekretaris Kabinet Pramono Anung dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono meninjau Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Jumat (17/5/2019). - Setkab

Bisnis.com, JAKARTA – Usai dilanda gempa pada Juli 2018, Kota Lombok mengalami kerusakan. Namun, kini perkembangannya makin positif meskipun masih cenderung lambat. Lombok kembali berpotensi untuk dijadikan tujuan wisata dan pengembangan properti hotel.

Manager Research & Consultancy Coldwell Banker Angra Angreni mengatakan bahwa di Lombok, khususnya properti hotel sudah mulai bergerak ke arah yang positif dengan tingkat okupansi yang mulai bertumbuh, meski belum bisa menyamai angka sebelum terjadi gempa.

Sebelum gempa, okupansi hotel di Lombok bisa mencapai 70 persen-80 persen, bahkan untuk hotel-hotel yang performanya bagus bisa melebihi 85 persen atau ada di hari-hari tertentu bisa full. “Pascagempa hingga April lalu baru mencapai 50 persen-60 persen, sedangkan pada bulan Puasa ini hanya di 20 persen-30 persen, bahkan untuk hotel nonbintang bisa di bawah 15 persen,” paparnya kepada Bisnis, Selasa (21/5).

Angra melanjutkan, profil tamu hotel kebanyakan berasal dari kunjungan pemerintah, yang didominasi oleh Pertemuan, Insentif, Konvensi, dan Pameran (MICE) dari Jakarta, Bali, Surabaya, Makassar, Yogyakarta, dan berbagai tempat lainnya.

Terdapat pula tamu mancanegara yang merupakan tamu-tamu pemerintah. Selanjutnya, untuk profil korporasi kebanyakan hadir dari Bank dan perusahaan-perusahaan non-pemerintah (NGO).

“Terutama pascagempa, banyak peneliti maupun NGO yang melakukan riset di Nusa Tenggara Barat (NTB),” lanjutnya.

Pascagempa, lanjut Angra, pasar hotel di Lombok lebih didorong oleh kegiatan MICE, terutama oleh pemerintah, baik daerah maupun pusat (Kementerian). Pemerintah mendorong untuk kegiatan-kegiatan regional Timur diarahkan di Mataram.

Untuk daerah luar Kota Mataram, seperti Senggigi dan Kuta, 75 persen-80 persen pasar hotel lebih didorong oleh turis mancanegara, seperti dari Australia, Eropa, yang waktu minimal tinggalnya hanya 2-3 malam, bahkan ada pula yang hingga 14 hari - 1 bulan.

“Bagi turis yang sudah bosan dengan Bali, mereka berkunjungnya ke Lombok. Mataram, atau Lombok secara keseluruhan masih sangat potensial untuk tujuan investasi, terutama yang menunjang kegiatan pariwisata seperti sektor perhotelan dan resor,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perhotelan, wisata lombok

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top