Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia dinilai harus meningkatkan persentase reserve margin atau cadangan daya pembangkit untuk semakin menarik investor melakukan penanaman modal.
Juru Bicara Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) Rizal Calvary menilai cadangan listrik yang rendah telah mempengaruhi iklim investasi di Indonesia. Menurutnya, reserve margin akan memastikan jika kawasan ekonomi bertumbuh, distribusi listrik tetap terjamin. Apalagi salah satu parameter ease of doing business, adalah ketersediaan listrik.
Hingga saat ini, cadangan listrik di sejumlah pembangkit terutama sistem Jawa-Bali telah sebesar 30 persen. Walaupun dinilai aman dan cukup oleh pemerintah, APLSI melihat jumlah ini terlalu kecil jika dibandingkan dengan negara lain di Asia Tengggara.
Saat ini seluruh pembangkit di sistem Jawa-Bali beroperasi, cadangan listrik sudah sebesar 30 persen. Hanya beberapa wilayah Indonesia yang memiliki pembangkit dengan cadangn di bawah 30 persen.
Pembangkit tersebut yakni Pembangkitan Sumatera bagian Utara (Kit SBU) dengan reserve margin 18 persen, Pembangkitan Sumatera Bagian Selatan (SBST) 21 persen, Pembangkitan Lampung 8 persen, sistem kelistrikan interkoneksi Sulut-Go 21 persen, dan sistem kelistrikan Sorong 12 persen.
Adapun Singapura memiliki cadangan listrik 100 persen. Sementara, China memiliki cadangn listrik yang hampir mendekati 100 persen.
Baca Juga
“Yang kita harus garis bawahi adalah soal cadangan listrik kita terendah di Asean,” katanya kepada Bisnis, Rabu (24/4/2019).
Menurutnya,antara investasi dan kelistrikan harus terjadi bersamaan. Dia mencontohkan investasi pembangkit di wilayah Indonesia bagian timur tidak bisa serta merta terjadi jika listrik tidak ada. Begitu pula sebaliknya, pembangkit listrik di daerah tersebut tidak akan dibangun jika industri tidak tumbuh baik.
“Dari dulu kan semacam ada perdebatan apakah listrik duluan atau kawasan ekonomi, menurut kami keduanya harus ada bersamaan,” katanya.