Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Summarecon Takkan Pangkas Harga Tanah di Tangerang dan Bekasi

PT Summarecom Agung memastikan pelambatan bisnis properti takkan membuatnya menurunkan harga tanah huniannya yang ada di satelit DKI seperti Tangerang dan Bekasi
Dini Hariyanti
Dini Hariyanti - Bisnis.com 22 Juli 2015  |  09:55 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, TANGERANG--PT Summarecon Agung Tbk. memastikan pelambatan bisnis properti takkan membuatnya menurunkan harga tanah huniannya yang ada di satelit DKI, seperti Tangerang dan Bekasi.

"Harga tanah Summarecon bukan model yang minggu depan tetiba naik [atau turun]. Untuk properti yang prime dan hunian vertikal mewah kami tidak berencana turunkan harga," ucap Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk Adrianto P. Adri kepada Bisnis, Selasa (22/7/2015).

Harga tanah rumah tapak Summarecon bervariasi, khusus di Gading Serpong Tangerang sekitar Rp15 juta - Rp17 juta per meter persegi. Harga ini terbilang lebih mahal dibandingkan dengan properti mereka di Bekasi Jawa Barat antara Rp10 juta - Rp11 juta.

Adrianto membenarkan secara umum pelemahan bisnis properti terpengaruh kondisi makro ekonomi serta kebijakan pemerintah di sektor ini. Sebut saja ketidakpastian perubahan peraturan perpajakan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) plus penetapan batasan barang sangat mewah senilai Rp5 miliar.

Selain itu ada pula soal suku bunga acuan BI belum surut dari 7,5%, maka suku bunga KPR dan KPA kemungkinan bertengger di level dua digit. Kebijakan lain yang dirasa memberatkan calon konsumen maupun pengembang adalah ketiadaan sistem KPR inden.

Adapun hal yang menahan geliat pasar properti dari sisi makro tentu terkait pelemahan pertumbuhan ekonomi. Pada kuartal pertama tahun ini hanya tumbuh 4,71% atau 0,5% di bawah periode sama tahun lalu.

Belum lagi penguatan dolar AS terhadap rupiah yang berimbas terhadap harga bahan bangunan. Pada akhirnya harga jual hunian ikut terdongkrak. Walhasil masyarakat cenderung mengutamakan pemenuhan kebutuhan sehari-hari daripada sektor papan.

"Kemungkinan [bisnis properti] baru akan membaik pada kuartal terakhir [2015]," ucap Adrianto.

Lembaga properti Cushman and Wakefield Indonesia, diberitakan Bisnis awal bulan ini, menyodorkan gambaran melemahnya gairah bisnis properti di Jabodetabek. Di wilayah ini tersedia pasokan 185.181 unit apartemen stata tittle tetapi selama Januari - Maret tahun ini yang terserah hanya 64,4%.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

properti tangerang summarecon agung provinsi banten
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top