Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pemerintah Pacu Daya Saing Furnitur Jelang MEA

Menteri Perindustrian M.S. Hidayat mengatakan waktu 2 tahun yang tersisa sebelum memasuki MEA akan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pemerintah untuk mendongkrak produktivitas dan daya saing industri furnitur.
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 11 Maret 2014  |  16:14 WIB
Pemerintah Pacu Daya Saing Furnitur Jelang MEA
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Perindustrian M.S. Hidayat mengatakan waktu 2 tahun yang tersisa sebelum memasuki MEA akan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pemerintah untuk mendongkrak produktivitas dan daya saing industri furnitur.

 “Kemudahan untuk bahan baku akan kami fasilitasi, supaya tidak kena pungutan-pungutan. Karena bahan bakunya kan banyak dari luar Jawa. Jadi, transportasi antarpulau, perdagangan, dan aturan-aturan di pelabuhan setempat itu akan dibereskan. Sekarang harus beres, karena sudah enggak ada waktu lagi,” tegasnya, Selasa (11/3/2014).

Hidayat menyayangkan pertumbuhan industri mebel yang tak kunjung menembus US$2 miliar hingga 2013. Untuk itu, Kemenperin, Kemendag, dan asosiasi bertekda untuk meningkatkan target penjualan hingga lebih dari dua kali lipat dalam 4 tahun.

“Karena sebenarnya banyak sekali bahan baku spesifik yang hanya dimiliki Indonesia, apakah itu kayu mahoni, kayu jati, atau rotan. Itu semua adalah selling point kita,” katanya.

Ketua Umum Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI) Sunoto membenarkan bahwa RI tidak punya kendala dalam memperoleh bahan baku.

Hanya saja, masih banyak wilayah di luar Jawa yang memiliki bahan baku kualitas prima dan belum tereksplor.

“Kita akan eksplor semua yang ada di sana, di pulau-pulau yang masih virgin seperti Irian, Ambon, Enggano, Aceh, kemudian di daerah NTB. Kita punya 90% rotan yang ada di dunia,” paparnya.

Indonesia, lanjutnya, memiliki 235 spesies rotan dan salah satunya adalah yang terbaik di dunia, yaitu rotan manau dari Siberut, Sumatra Barat. Nomor dua, katanya, adalah rotan kretes dari Enggano yang harga per kilogramnya relatif murah, yaitu hanya Rp15.000.

Dirjen Industri Agro Panggah Susanto menambahkan upaya pemerintah untuk menguatkan industri furnitur jelang MEA diawali dengan melarang ekspor bahan mentah sejak 2012. Selain itu, pemerintah juga sedang intensif meningkatkan kapabilitas produksi dan desain.

“Beberapa program sudah jalan. Kami juga akan membantu penetrasi pasar dengan mendirikan showroom-showroom pemasaran di Shanghai dan Dubai,” imbuhnya.

 

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

furnitur ekspor furnitur mea 2015
Editor : Rustam Agus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top