Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pengusaha Hutan Mulai Wacanakan Ekspor Kayu Bulat

Bisnis.com, JAKARTA - Usul untuk membuka kembali keran ekspor kayu bulat kembali didengungkan oleh para pelaku bisnis hutan produksi lantaran lesunya pasar dalam negeri. 
Ana Noviani
Ana Noviani - Bisnis.com 04 September 2013  |  17:36 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Usul untuk membuka kembali keran ekspor kayu bulat kembali didengungkan oleh para pelaku bisnis hutan produksi lantaran lesunya pasar dalam negeri. 

Anggota Dewan Pengurus Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Bambang Widyantoro menjabarkan pengusaha HTI cenderung menunda produksi, lantaran minimnya penyerapan pasar domestik dan harga jual yang tidak menggairahkan.

"HTI banyak yang tidak tebang, karena kalau ditebang kita rugi, hanya dihargai Rp310.000/m3, paling tidak seharusnya Rp400.000. Sebagian pohon yang tidak diproduksi ini jadi bobot mati saja," kata Bambang dalam sarasehan nasional bertajuk 'Masa Depan Pengelolaan Hutan Produksi Indonesia', Rabu (4/9/2013).

Harga kayu log di pasar domestik, lanjutnya, sangat rendah dibandingkan dengan harga di pasar internasional yang mencapai US$35-40/m3.
Apabila harga jual kayu bulat di dalam negeri tidak meningkat, Bambang menegaskan investasi HTI akan sangat berat.

"Kalau bisa kita ekspor saja, tentu kalau domestik sudah terpenuhi kebutuhanya," usul Direktur Utama PT Inhutani III ini.

Nana Suparna, Ketua Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) bidang Hutan Tanaman, mentuturkan hal serupa. Rendahnya harga jual menekan bisnis hutan produksi, hingga banyak yang mati suri.

Hingga akhir 2012, pemegang izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu (IUPHHK) hutan alam mencapai 294 unit. Itu pun hanya 115 unit atau 39% yang beroperasi.

Sementara itu, IUPHHK hutan tanaman pada akhir 2012 tercatat mencapai 235 unit dengan luas area 9,85 juta ha. Dari luas areal tersebut luas tanaman akumulatif mencapai 5,78 juta ha.

"HPH [hak pengusahaan hutan] tinggal 50% yang aktif, ratusan HPH berhenti. Produksinya pun hanya 50% dari RKT. Kalau HPH mati semua, industri pengolahan juga mati," ujarnya.

Menyusutnya jumlah HPH, kata Nana, a.l. disebabkan oleh harga kayu alam di pasar domestik yang lebih rendah dibandingkan biaya produksinya.

"Kalau industri pengolahan di dalam negeri bisa beli sesuai biaya produksi, kami tidak akan ribut soal ekspor log. Masalahnya industri domestik tidak mampu beli di atas biaya produksi," kata Nana.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor hutan hph aphi kayu bulat
Editor : Sepudin Zuhri
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top