Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Minyak Dunia Merangkak Naik, Menteri ESDM Antisipasi Belanja Subsidi

Menteri ESDM menyampaikan pemerintah mengantisipasi kemungkinan kenaikan belanja subsidi dan kompensasi BBM di tengah rebound harga minyak mentah.
Ilustrasi minyak mentah/Bloomberg
Ilustrasi minyak mentah/Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menuturkan pemerintah turut mengantisipasi kemungkinan kenaikan belanja subsidi dan kompensasi bahan bakar minyak (BBM) di tengah rebound harga minyak mentah saat ini. 

Kendati demikian, Arifin mengatakan, kementeriannya turut berfokus pada ketersediaan BBM di dalam negeri. 

“Kita harus antisipasi kenaikan subsidi sama kompensasi ya, harus diantispasi, tapi yang pertama energinya cukup dulu lah,” kata Arifin saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (5/4/2024). 

Seperti diketahui, harga minyak kini tengah dalam tren menuju level tertingginya dalam lima bulan, setelah OPEC+ mengonfirmasi akan mempertahankan pengurangan pasokan hingga akhir Juni 2024. 

Berdasarkan data Bloomberg, Kamis (4/4/2024), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak Mei 2024 telah melemah -0,01% atau -0,01 ke level US$85,42 per barel pada pukul 14.05 WIB. 

Sementara itu, harga minyak Brent, sebagai patokan global, pada kontrak Juni 2024 menguat 0,02% atau 0,02 poin ke posisi US$89,37 per barel. 

Arifin mengatakan kementeriannya terus mendorong upaya efisiensi dalam konsumsi BBM di dalam negeri. Dengan demikian, kata dia, nilai impor minyak mentah dan BBM dapat ditekan. 

“Kemudian ya konversi harus cepat. Habis itu infrastruktur harus terbangun baik. Dan efisiensinya bisa,” tuturya.

Pada pertemuan Rabu (3/4) OPEC dan sekutunya telah merekomendasikan untuk tidak merubah kebijakan. Hal ini akan membantu untuk menjaga pasar global tetap ketat selama beberapa bulan kedepan.

Namun, nyatanya kepatuhan terhadap tingkat kuota OPEC+ masih menjadi masalah. Irak memompa lebih banyak minyak melebihi target yang telah disepakati pada Maret 2024, meskipun Irak berjanji untuk membatasi aliran minyak sebagai kompensasi. 

Adapun, ekspor minyak mentah Rusia baru-baru ini juga mengalami peningkatan.

“Untuk dua atau tiga bulan ke depan, saya memperkirakan produksi OPEC akan turun lebih jauh lagi,” jelas ahli strategi komoditas senior di ANZ Banking Group Ltd., Daniel Hynes. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Leo Dwi Jatmiko
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper