Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Biaya Logistik Nasional Masih Tinggi, Ini Saran ALI

ALI menyoroti tingginya biaya logistik di Tanah Air yang masih menjadi tantangan hingga saat ini.
Truk logistik melewati jalan tol di Tb Simatupang, Jakarta, Rabu (28/4/2021).   Implementasi standar Euro 4 akan menguntungkan para pemilik kendaraan niaga dan logistik, termasuk Isuzu. Selain kian hemat BBM, kendaraan juga makin mudah perawatannya. /Bisnis.com
Truk logistik melewati jalan tol di Tb Simatupang, Jakarta, Rabu (28/4/2021). Implementasi standar Euro 4 akan menguntungkan para pemilik kendaraan niaga dan logistik, termasuk Isuzu. Selain kian hemat BBM, kendaraan juga makin mudah perawatannya. /Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) menyoroti tingginya biaya logistik di Tanah Air yang masih menjadi tantangan hingga saat ini.

Upaya penurunan biaya logistik nasional perlu dirancang secara komprehensif dari beberapa indikator, seperti efisiensi ongkos transportasi dan pembangunan jaringan distribusi barang yang efektif.

Ketua Umum ALI, Mahendra Rianto, mengatakan upaya pemerintah untuk menekan biaya logistik sejauh ini telah menunjukkan hasil yang cukup positif.

Hal tersebut terindikasi dari penurunan biaya logistik dari 24 persen dari PDB pada 2020 menjadi 14,29 persen dari PDB pada 2023 berdasarkan data dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Mahendra menjelaskan, efisiensi biaya logistik pada 2024 harus dilakukan secara komprehensif dari empat indikator yang menjadi kriteria penilaian ongkos logistik Bappenas, yakni biaya transportasi, persediaan (inventory), pergudangan (warehousing), serta administrasi dan SDM.

Dia menuturkan, pemerintah perlu menyiapkan program jangka pendek, menengah, dan panjang untuk menurunkan biaya logistik. Program-program tersebut perlu dirancang dengan detil dan komprehensif untuk masing-masing indikator logistik yang ada.

Mahendra mencontohkan, pemerintah dapat membuat program-program quick wins untuk menurunkan biaya transportasi sebesar 10%.

Menurutnya, dampak dari penurunan biaya transportasi tersebut akan cukup besar terhadap upaya penurunan biaya logistik nasional.

“Kalau biaya transportasi turun 10% saja dampaknya sudah akan signifikan, karena dari biaya logistik saat ini yang 14,29% dari PDB, 40% di antaranya masih komponen biaya transportasi,” kata Mahendra dalam dalam The 2nd Bisnis Indonesia Logistics Awards 2023 di Jakarta, Selasa (28/11/2023).

Sementara itu, pemerintah dan pihak swasta juga perlu berkolaborasi untuk memastikan ketersediaan bahan-bahan baku produksi dan efisiensi pengirimannya. Mahendra menuturkan, alur pengiriman bahan baku atau barang-barang lain yang optimal akan berimbas positif pada penurunan biaya logistik.

Selanjutnya, Indonesia juga perlu meningkatkan jaringan distribusi barang di seluruh wilayah. Hal tersebut dapat dilakukan dengan adanya fasilitas pergudangan sebagai hub untuk pengiriman atau penerimaan barang dari satu wilayah.

Adapun, dari sisi administrasi dan SDM, digitalisasi pada sektor logistik dan rantai pasok perlu terus ditingkatkan agar proses pengiriman barang dapat berjalan mulus, tanpa hambatan, dan dengan biaya yang lebih rendah.

“Pemerintah tinggal memetakan saja upaya penurunan biaya logistik ini dari setiap industri,” pungkasnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper