Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Sri Mulyani Ungkap Peran Penting APBN saat Negara Menghadapi Krisis

Sri Mulyani menuturkan bahwa saat negara mengalami krisis seperti pandemi, APBN muncul sebagai instrumen yang berperan penting.
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan atau Menkopolhukam Mahfud MD dan Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferensi pers di Kementerian Keuangan, Sabtu (11/3/2023). JIBI/Bisnis- Ni Luh Angela
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan atau Menkopolhukam Mahfud MD dan Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferensi pers di Kementerian Keuangan, Sabtu (11/3/2023). JIBI/Bisnis- Ni Luh Angela

Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan pentingnya peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN) saat negara mengalami krisis.

Sri Mulyani menuturkan bahwa saat negara mengalami krisis seperti pandemi, APBN muncul sebagai instrumen yang berperan penting. Meski harus diakui, pandemi juga telah membuat penerimaan turun tajam hingga mendekati 20 persen.

Pada saat bersamaan, pandemi Covid-19 juga membuat kebutuhan negara meningkat untuk memberikan perlindungan sosial sekaligus memulihkan ekonomi. Dalam situasi ini, APBN dinilai hadir untuk menangani berbagai situasi yang tak pernah direncanakan sejak awal.

“Di situ peran APBN menjadi sangat penting. Anggaran pendapatan belanja negara merupakan instrumen yang ada di depan, di dalam menangani pertama penyakitnya sendiri, pandemi,” ujar Menkeu dalam acara Modul Sinkronisasi Krisna Renja Sakti, Selasa (14/3/2023).

Di tengah situasi darurat, Bendahara Negara ini menyampaikan bahwa Kemenkeu segera mengalokasikan anggaran untuk sektor kesehatan. Seluruh kementerian/lembaga ikut turun menangani krisis tersebut.

Menurut Menkeu, sistem penganggaran dan sistem perencanaan serta pelaksanaan anggaran menjadi batang tubuh yang diandalkan dalam berbagai situasi, baik maupun genting.

“Sesudah kita mengalami pandemi 3 tahun, alhamdulillah sekarang kita melihat perekonomian kita luar biasa, sudah bangkit. Tahun lalu kita tumbuh 5,3 jauh lebih tinggi dibandingkan tahun 2021 yang hanya 3,7 persen,” kata Sri Mulyani.

Dia menuturkan bahwa pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen dapat diraih Indonesia pada saat dunia mengalami turbulensi akibat perang Rusia-Ukraina, harga komoditas yang melonjak, serta disrupsi dari sisi suplai lantaran terdampak isu geopolitik.

Menurut Sri Mulyani, kondisi tersebut menjadi tantangang yang berbeda dibandingkan pandemi. Meski diakui cukup menantang, Menkeu menyatakan bahwa Indonesia tetap optimistis sekaligus waspada untuk mengantisipasi tantangan yang ada.

“Kalau tahun 2022 dengan Rp3.090 triliun, kita mampu untuk menangani pandemi, memulihkan ekonomi, melindungi masyarakat dari gejolak dan kenaikan harga BBM yang luar biasa, serta kenaikan harga pangan, maka kita tentunya juga optimis bahwa dalam masa-masa sekarang ini kita mampu untuk menggunakan anggaran pendapatan belanja secara lebih baik,” pungkasnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper