Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Celios Beberkan 5 Tantangan Utama Usaha Toko Kelontong

Kompetisi yang cukup ketat dengan ritel modern menjadi tantangan terbesar bagi warung kelontong.
Ilustrasi sebuah toko kelontong/Bloomberg
Ilustrasi sebuah toko kelontong/Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Center of Economic and Law Studies (Celios) melaporkan dalam studinya ada beberapa tantangan yang dihadapi warung kelontong atau usaha kecil menengah (UKM) dalam mengembangkan bisnisnya. Tantangan terbesar bagi warung kelontong adalah kompetisi yang cukup ketat dengan ritel modern.

Direktur Celios Bhima Yudhistira mengatakan, selain persaingan dengan ritel modern, masalah gagal bayar dengan persentase 31 persen juga menjadi masalah utama. Bhima menuturkan, hal itu merupakan salah satu hal yang menjadi kelemahan UKM. Kelemahan lainnya adalah UKM masih terbatas mengandalkan transaksi tunai.

“Porsinya 36 persen, ada kompetisi yang cukup ketat. Ada beberapa konsumen yang menginginkan membayar secara cashless, tapi pelaku warung tidak menyediakannya,” ujarnya dalam paparannya Studi B2B FMCG Marketplace Indonesia Outlook 2023 di Jakarta Selatan, pada Kamis (19/1/2023).

Bhima melanjutkan, masalah toko tradisional lainnya adalah tantangan lokasi yang tidak menguntungkan, yakni 27 persen. Bhima menjelaskan bahwa hal itu merupakan kategori tantangan klasik yang dihadapi oleh warung-warung.

Ada yang berdekatan dengan pemukiman sehingga dianggap ramai, tapi ada pula yang lokasinya kurang strategis, di mana omsetnya belum terlalu bersaing.

Kemudian 23 persen adalah ruang kios yang terbatas. Bhima menilai, ruang kios yang terbatas ini sebenarnya masuk ke dalam tantangan sekaligus juga peluang. Sebab, lanjut dia, memang ruang kiosnya terbatas, tapi semakin mendapatkan konsumen loyal, konsumen semakin banyak itu, tentu akan nyambung dengan kebutuhan lainnya.

“Seperti masalah soal 20 persen akses terbatas pada pembayaran dan akses pada pembiayaan. Jadi masalah financing di UKM atau warung ini juga masalah krusial yang bisa dijembatani platfom B2B. Karena mereka butuh ekspansi, pembiayaan, modal usaha, ini dibutuhkan agar kiosnya juga semakin besar, bisa menampung banyak barang,” tutur Bhima

Sementara itu, dia menuturkan, hanya 1 persen UKM yang merasa khawatir menghadapi ancaman pengangguran. Karena jika melihat studi-studi lain yang non-UKM, kekhawatiran terhadap ancaman penganggurannya jauh lebih tinggi daripada UKM.

“Jadi pascapandemi Covid-19 ini UKM jauh lebih tangguh karena yang takut tutup permanen, takut dianggap jadi pengangguran itu relatif sangat kecil,” kata Bhima.

Maka dari itu, Bhima mengungkapkan bahwa studi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada publik terkait kondisi bisnis B2B Fast Moving Consumer Goods (FMCG) di Indonesia, serta peluang kolaborasi antar pelaku usaha untuk memperbesar potensi pasar B2B FMCG.

Studi yang didukung salah satu platform e-commerce warung kelontong GudangAda tersebut, Bhima menjelaskan bahwa 60 persen UKM di Indonesia sudah merasakan manfaat dari penerapan digitalisasi pada bisnisnya seperti mempermudah mencari supplier dan menjangkau pelanggan.

Untuk itu, dia pun memproyeksikan pertumbuhan nilai transaksi business-to-business (B2B) e-commerce pada 2023 akan tumbuh positif hingga mencapai 25 persen dibanding 2022. Dalam catatan Celios, nilai transaksi B2B e-commerce tahun 2022 mencapai US$17,07 miliar dan diperkirakan akan meningkat menjadi US$21,3 miliar.

“Pendorongnya adalah makanan minuman, bahan pokok dan produk kosmetik yang memang terjangkau oleh semua kalangan masyarakat. Yang terkait kebutuhan dasar akan tumbuh positif. Kedua, kenapa B2B tumbuh lebih banyak karena jaringan UKM yang tergabung dalam ekosistem semakin luas,” ujar Bhima.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper