Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Ketersediaan Bahan Baku, Dukung Langkah Pebisnis Furnitur Rambah Pasar Domestik

Melimpahnya ketersediaan bahan baku kayu di Tanah Air dinilai sejalan dengan rencana pelaku industri furnitur nasional untuk merambah pasar domestik.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 10 Desember 2022  |  02:14 WIB
Ketersediaan Bahan Baku, Dukung Langkah Pebisnis Furnitur Rambah Pasar Domestik
Presiden Joko Widodo (tengah) meninjau pameran International Furniture Expo (IFEX) 2019 di Jakarta, Rabu (13/3/2019). -
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Rencana pelaku industri furnitur nasional untuk merambah pasar domestik di tengah lesunya pasar ekspor dinilai sejalan dengan melimpahnya ketersediaan bahan baku kayu di Tanah Air. 

Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bobby Gafur Umar mengatakan persediaan kayu yang memiliki komposisi lebih dari 50 persen dari seluruh bahan baku furnitur, berlimpah di Indonesia. 

"Sehingga, pelaku industri furnitur Indonesia tidak akan sulit memproduksi stok untuk pasar domestik karena diuntungkan dengan ketersediaan bahan baku kayu yang melimpah," kata Bobby kepada Bisnis, Jumat (9/12/2022). 

Kondisi tersebut, sambungnya, didukung pula oleh permintaan dalam negeri yang diperkirakan akan terus dalam kondisi baik baik, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi RI yang diyakini oleh kalangan pelaku usaha masih di atas 5 persen. 

Bobby menilai terdapat 2 segmen pasar yang permintaannya ke depan masih menjanjikan untuk produk furnitur. Pertama, segmen ritel. Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi masih di atas 5 persen, permintaan dari segmen ritel diperkirakan akan terus positif. 

"Permintaan akan tinggi terutama karena ada momentum hari besar seperti perayaan Imlek dan Idulfitri," kata Bobby. 

Kedua, segmen proyek. Bobby menilai proyek pemerintah yang mengalokasikan sebagian dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBD) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) akan sangat berpengaruh positif bagi penjualan furnitur. 

Apalagi, sebagian anggaran tersebut memang diprioritaskan untuk membeli produk-produk dalam negeri, termasuk barang-barang furnitur, untuk perlengkapan perkantoran, sekolah, dan sarana negara lainnya. 

Sejalan dengan pandangan tersebut, Ketua Presidium Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan pebisnis furnitur nasional sudah mulai merengsek masuk ke pasar domestik dengan menargetkan belanja pemerintah. 

Himpunan, jelasnya, sudah mengidentifikasi potensi cuan yang cukup besar dari belanja negara, yakni senilai Rp50 triliun, dari proyek pengadaan di gedung-gedung kementerian, sekolah, dan perkantoran. 

Selain itu, sambungnya, pelaku industri furnitur dalam negeri yang jumlahnya saat ini mencapai 2.500 juga sudah mengambil ancang-ancang untuk masuk ke proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. 

Sobur mengestimasikan proyek IKN bisa mendatangkan cuan hingga Rp40 triliun dalam kurun 5-10 tahun mendatang untuk pelaku industri furnitur. 

Sampai dengan 2030, sambungnya, potensi pasar domestik diperkirakan lebih dari US$14 miliar atau hampir mencapai Rp200 triliun yang juga tidak lepas dari pertumbuhan penduduk di Indonesia. 

Kendati demikian, upaya tersebut bukan berarti tidak menemukan tantangan yang berat. Sebab, pemain dalam negeri mesti bersaing dengan brand-brand besar seperti IKEA dan Informa yang dikatakan mengimpor mayoritas produknya dari China. 

Sobur mengatakan omzet brand-brand furnitur raksasa tersebut mencapai Rp14 triliun dari produk-produk impor saja. Total, terdapat sebanyak 40 brand besar yang mengimpor furnitur ke Indonesia.

Tantangan lainnya adalah modal kerja yang diperkirakan tidak sedikit. Terutama untuk menyiapkan beberapa hal seperti stok domestik, pembangunan gerai, investasi gudang. Membuka satu galeri aja memakan waktu dan mahal.

Selain itu, diperlukan juga waktu yang tidak singkat dalam memperkuat branding pemain-pemain dalam negeri. 

"Brand seperti Olympyc saja perlu waktu 50 tahun dalam melakukan branding. Namun, dengan memanfaatkan teknologi bisa dipersingkat hingga 5 tahunan," ucapnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri furnitur furniture industri furnitur ekspor furnitur
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top