Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Pebisnis Bidik Tren Permintaan Pasar Furnitur Dalam Negeri 2023

Pebisnis furnitur mulai serius merambah pasar dalam negeri pada 2023 yang bakal selaras dengan tren peningkatan permintaan.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 05 Desember 2022  |  07:45 WIB
Pebisnis Bidik Tren Permintaan Pasar Furnitur Dalam Negeri 2023
Ilustrasi. Pekerja menyelesaikan tahap produksi mebel kayu jati di Desa Mekar Agung Lebak, Banten. Kerajinan mebel berupa kursi, meja, dan tempat tidur yang berbahan dasar limbah kayu jati dan mahoni dengan harga berkisar Rp13 juta hingga Rp5 juta per unit. - Antara/Mansyur S
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Upaya pengusaha furnitur nasional untuk mulai serius merambah pasar dalam negeri pada 2023 kemungkinan selaras dengan permintaan yang diperkirakan bakal terkerek oleh sejumlah faktor.

Menurut Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Bobby Gafur Umar, terdapat dua faktor yang dinilai dapat memicu permintaan terhadap produk furnitur pada paruh pertama tahun depan. 

Pertama, faktor permintaan dari segmen ritel yang diperkirakan terkerek oleh sejumlah momentum pada semester I/2023. Momentum-momentum yang dimaksud antara lain Hari Raya Imlek dan Idulfitri. 

"Pada semester pertama tahun depan, diperkirakan permintaan terhadap produk furnitur terkerek oleh segmen ritel karena momen Imlek yang jatuh pada Januari dan Idulfitri pada April," kata Bobby, Minggu (4/12/2022). 

Kedua, faktor permintaan dari belanja pemerintah dalam Program Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN). Tahun depan, Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menargetkan penjualan furnitur melalui P3DN senilai Rp5 triliun. 

Berbeda dari segmen ritel dan belanja pemerintah tersebut di atas, Bobby memperkirakan penjualan furnitur dari proyek-proyek pembangunan properti tidak akan terlalu menjanjikan pada 2023.

Menurutnya, permintaan terhadap produk furnitur dari segmen tersebut akan lambat sejalan dengan tren kenaikan suku bunga yang terjadi dalam beberapa waktu belakangan. "Dari segi pasar properti, agak sulit karena kenaikan suku bunga," jelasnya. 

Sebagai informasi, pengusaha industri furnitur Indonesia bakal melakukan diversifikasi pasar sebagai strategi bisnis pada 2023. Tidak hanya mengandalkan pasar ekspor, pasar domestik pun juga akan disasar mulai tahun depan. 

Ketua Presidium Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan untuk tahap awal ditargetkan sebanyak 200 perusahaan eksportir furnitur akan merambah pasar dalam negeri. 

Menurut Sobur, salah satu target yang disasar adalah anggaran belanja pemerintah dengan menggunakan strategi penyiapan etalase atau katalog produk guna menyambut peluang tersebut. 

"Untuk masuk ke pasar domestik, tahun depan akan dibuat katalog bersama demi menyambut program pemerintah yang ditaksir memiliki potensi pasar mencapai Rp50 triliun - Rp80 triliun per tahun," kata Sobur. 

HIMKI menargetkan penjualan produk furnitur sisa-sisa stok ekspor dari sebanyak 200 perusahaan dengan nilai yang ditaksir mencapai Rp5 triliun untuk tahap awal tahun pertama pada 2023. 

Pada tahap berikutnya, himpunan memperkirakan akan ada sebanyak 250 perusahaan yang turut merambah pasar domestik. Dalam 5 tahun ke depan, ditargetkan sebanyak 500 perusahaan sudah menjual produk ke pasar dalam negeri. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri furnitur industri furnitur kadin kadin indonesia
Editor : Rio Sandy Pradana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top