Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Tarif Ojol jadi Penyebab Inflasi September Tembus Tertinggi Sejak 2014, Kok Bisa?

Komoditas utama penyumbang inflasi pada kelompok ini adalah bensin, angkutan dalam kota, solar, angkutan antar kota, tarif kendaraan roda 2 dan 4 online (ojol)
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 03 Oktober 2022  |  13:49 WIB
Tarif Ojol jadi Penyebab Inflasi September Tembus Tertinggi Sejak 2014, Kok Bisa?
Pengemudi ojek online mengisi BBM di salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jakarta, Selasa (14/4/2020). PT Pertamina (persero) membuat program khusus selama masa darurat pandemi virus corona atau Covid-19 untuk para pengemudi ojol. Pertamina meluncurkan layanan khusus untuk para ojol berupa cashback saldo LinkAja dengan maksimal nilai Rp15.000 per hari, untuk pembelian bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Pertamina melalui aplikasi MyPertamina. Bisnis - Arief Hermawan P
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pengeluaran untuk transportasi menjadi pendorong Indeks Harga Konsumen (IHK) atau inflasi pada September 2022 melonjak 1,17 persen (month-to-month/mtm). Capaian inflasi ini merupakan yang tertinggi sejak Desember 2014.

Secara tahun berjalan, inflasi pada periode tersebut tercatat sebesar 4,84 persen (year-to-date/ytd) sementara secara tahunan mencapai 5,95 persen (year-on-year/yoy). 

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono menyampaikan, penyumbang utama inflasi pada September 2022 berasal dari kelompok pengeluaran transportasi seiring kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi untuk jenis Pertalite dan Solar dengan kenaikan lebih dari 30 persen serta Pertamax yang melonjak di 16 persen. 

Dampaknya, kelompok transportasi mencatatkan inflasi  sebesar 8,88 persen secara bulanan, dengan memberikan andil terhadap inflasi pada bulan ini sebesar 1,08 persen mtm. 

Komoditas utama penyumbang inflasi pada kelompok ini adalah bensin, angkutan dalam kota, solar, angkutan antar kota, tarif kendaraan roda 2 online, dan tarif kendaraan roda 4 online.

“Komoditas apa yang menyebabkan terjadi inflasi pada kelompok transportasi yang dominan adalah bensin dengan andil 0,89 persen mtm, kemudian angkutan dalam kota 0,09 persen, solar 0,03 persen, angkutan antar kota 0,03 persen, tarif kendaraan roda 2 online 0,02 persen,  dan tarif kendaraan roda 4 online 0,01 persen,” kata Margo dalam konferensi pers, Senin (3/10/2022).

Di samping itu, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau mencatatkan deflasi sebesar 0,30 persen mtm dan memberikan andil terhadap deflasi sebesar -0,08 persen.

Deflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau dipicu oleh bawang merah dengan andil -0,06 persen, cabai merah -0,05 persen, minyak goreng -0,03 persen, tomat -0,02 persen, cabai rawit -0,02 persen, dan ikan segar -0,01 persen.

“Jadi inflasi di September ini lebih karena kenaikan harga bbm dan juga di sektor transportasi, sementara mampu diredam oleh kelompok makanan minuman dan tembakau di September ini mengalami deflasi,” ujarnya

Dari pantauan BPS di 90 kota, tercatat 88 kota mengalami inflasi dimana inflasi tertinggi terjadi di Bukit Tinggi  sebesar 1,87 persen mtm. Sementara, dua kota mengalami deflasi dimana Manokwari mengalami deflasi sebesar -0,64 persen dan Timika -0,59 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi tarif ojol
Editor : Anggara Pernando
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top