Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Konsensus Ekonom Inflasi Tembus 5 Persen, Ini Respons Sri Mulyani

Sejumlah ekonom melihat bahwa peluang inflasi menembus 5 persen terbuka lebar.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 31 Agustus 2022  |  18:23 WIB
Konsensus Ekonom Inflasi Tembus 5 Persen, Ini Respons Sri Mulyani
Tangkapan layar Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam APBN Kita pada 27 Juli 2022. - Bisnis/Anggara Pernando
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Konsensus ekonom dalam data Bloomberg memperkirakan bahwa inflasi Indonesia pada Agustus 2022 dapat menembus 5 persen, sejalan dengan proyeksi Bank Indonesia bahwa inflasi akhir tahun bisa berkisar 5 persen. Pengendalian harga pangan menjadi penting karena menjadi pendorong utama inflasi.

Berdasarkan data Bloomberg, konsensus ekonom memperkirakan rata-rata inflasi Agustus 2022 di angka 4,99 persen. Proyeksi rata-rata itu naik dari realisasi inflasi Juli 2022 yang mencapai 4,94 persen.

Proyeksi ekonom itu membentang dengan batas bawah 4,72 persen dan batas atas 5,7 persen. Artinya, sejumlah ekonom melihat bahwa peluang inflasi menembus 5 persen terbuka lebar.

Tingginya proyeksi inflasi itu didasari oleh sinyal kuat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Selain itu, ekspektasi inflasi menjadi sangat tinggi karena adanya proyeksi kenaikan harga pangan akan mencapai puncak dalam empat bulan ke depan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan bahwa pemerintah telah memberikan berbagai subsidi untuk menekan laju inflasi, terutama melalui subsidi dan kompensasi energi yang mencapai Rp502 triliun. Menurutnya, langkah itu berhasil menjaga komponen inflasi harga yang diatur pemerintah (administered price).

Meskipun begitu, gejolak kenaikan harga pangan mendorong inflasi secara keseluruhan. Oleh karena itu, menurutnya, langkah penanganan laju inflasi pangan menjadi kunci dalam meredam kondisi saat ini, yang merupakan limpahan dampak dari kenaikan harga pangan secara global.

"Karena kita menaikkan subsidi BBM sampai tiga kali lipat, nilainya mencapai Rp502 triliun itu yang menyebabkan kenapa harga-harga relatif masih bisa dikendalikan. Inflasi kemarin sumbangan terbesarnya dari makanan," kata Sri Mulyani usai rapat kerja dengan Komisi XI DPR serta sejumlah pimpinan kementerian dan lembaga lain, Rabu (31/8/2022).

Menurutnya, pemerintah perlu menyeimbangkan belanja subsidi dan daya beli masyarakat, serta di sisi lain memastikan ketahanan subsidi dari kas negara. Kesehatan fiskal dalam menjaga inflasi menjadi penting karena pada tahun depan terdapat kewajiban konsolidasi fiskal, yakni defisit APBN berada di bawah 3 persen.

Adapun, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan bahwa tahun ini laju inflasi akan menembus proyeksi awal, yakni maksimal 4 persen. Hal itu sudah tergambar dalam laporan semester I/2022 APBN, yakni pemerintah menaikkan outlook inflasi menjadi 4 persen—4,8 persen.

Perry pun menyebut bahwa inflasi akhir tahun bisa menembus 5 tahun, berkaca kepada pergerakan inflasi dalam tujuh bulan terakhir. Menurutnya, kebijakan subsidi akan menjadi penentu bagaimana laju inflasi dalam sisa tahun berjalan.

"Tahun depan juga ada risiko [laju inflasi] untuk melebihi batas atas dari sasaran, yaitu di atas 4 persen. Tentu saja nanti akan sangat dipengaruhi bagaimana kebijakan fiskal, berkaitan dengan penyediaan subsidi untuk berbagai hal," ujar Perry dalam dalam rapat kerja bersama Komisi XI, Rabu (31/8/2022).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi sri mulyani ekonomi harga pangan
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top