Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Surplus Neraca Dagang Mei 2022 Turun Tajam, di Bawah Perkiraan Ekonom Bank Mandiri

Neraca dagang Indonesia pada Mei 2022 mengalami surplus sebesar US$2,90 miliar, jauh dibawah proyeksi Bank Mandiri pada angka US$5,01 miliar.
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 15 Juni 2022  |  18:18 WIB
Surplus Neraca Dagang Mei 2022 Turun Tajam, di Bawah Perkiraan Ekonom Bank Mandiri
Proyeksi surplus ekonom Mandiri meleset karena salah satunya perkiraan mereka ekspor batu bara menggunakan harga Newcastle sebesar US390,41 per ton, meningkat sebesar 27,28 persen (month-to-month/mom) pada Mei 2022. - Antara Foto/Nova Wahyudi

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan pada Mei 2022 mengalami surplus sebesar US$2,90 miliar, turun tajam dari bulan sebelumnya yang mencapai US$7,56 miliar.

Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman menyampaikan angka realisasi tersebut di bawah perkiraan mereka. Sebelumnya, Faisal memprediksi neraca dagang pada Mei 2022 mengalami surplus sebesar US$5,01 miliar.

"Angka realisasi tersebut di bawah perkiraan kami surplus US$5,01 miliar dan perkiraan konsensus pasar surplus US$3,46 miliar," kata Faisal dalam keterangan tertulisnya, Rabu (15/6/2022).

Demikian halnya dengan pertumbuhan ekspor Indonesia yang pada Mei 2022 melemah menjadi 27 persen (year-on-year/yoy) dibandingkan 47,76 persen pada April 2022.

Angka tersebut dibawah perkiraan Bank Mandiri sebesar 46,35 persen yoy dan perkiraan konsensus pasar sebesar 36,64 persen yoy.  

Faisal mengatakan, perbedaan antara perkiraan mereka dengan angka realisasi cukup besar.

Salah satunya karena perkiraan mereka untuk ekspor batu bara menggunakan harga Newcastle sebesar US$390,41 per ton, meningkat sebesar 27,28 persen (month-to-month/mom) di Mei 2022, dibandingkan dengan Harga acuan nasional untuk batu bara atau Harga Batubara Acuan (HB) sebesar US$275,64 per to, yang turun -4,42 persen mom.

Meski demikian, Bank Mandiri masih memperkirakan surplus neraca dagang menyusut lantaran impor akan mengikuti ekspor, seiring dengan percepatan pemulihan ekonomi domestik.

Adapun faktor yang membatasi surplus tersebut adalah lonjakan harga minyak karena Indonesia merupakan net importir minyak, dan meningkatnya risiko stagflasi atau resesi-inflasi di beberapa ekonomi utama dunia yang dapat melemahkan permintaan ekspor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Neraca Perdagangan BPS batu bara surplus perdagangan
Editor : Muhammad Khadafi

Artikel Terkait



Berita Lainnya

    Berita Terkini

    back to top To top