Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

UEA Usul Bea Masuk Bahan Baku Plastik Turun, Ekonom: RI Masih Punya Peluang Negosiasi

Ekonom mengingatkan agar pemerintah melihat sejumlah klausul yang bisa dinegoisasi dalam perundingan dagang dengan UEA.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 08 Juni 2022  |  17:06 WIB
UEA Usul Bea Masuk Bahan Baku Plastik Turun, Ekonom: RI Masih Punya Peluang Negosiasi
Serat daur ulang yang diproduksi INOV. - INOV

Bisnis.com, JAKARTA- Peluang negosiasi antara Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA) terkait dengan usulan negara tersebut agar pemerintah menurunkan bea masuk bahan baku plastik dalam lingkup kerja sama ekonomi dinilai masih terbuka.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bima Yudhistira mengatakan klausul UEA agar Indonesia menurunkan bea masuk bahan baku plastik masih dapat dikaji dengan melihat sejumlah indikator.

"Masih terbuka peluang untuk negosiasi. Kendatipun ada permintaan supaya bea masuk dikurangin, tetapi kalau melihat kebutuhan dalam negeri, jangan sampai kontradiksi dengan rencana perluasan industri di Indonesia," kata Bhima ketika dihubungi, Rabu (8/6/2022).

Menurutnya, sejumlah klausul masih bisa dikaji lebih dalam, seperti ongkos produksi serta beberapa potensi kehilangan investasi, yang dinilai diperhitungkan secara hati-hati dalam perundingan dengan UEA.

Selain itu, kata Bhima, posisi tawar Indonesia untuk melobi UEA untuk membangun pabrik petrokimia di Tanah Air sulit karena negara tersebut memiliki sumber yang melimpah untuk industri tersebut.

Diberitakan sebelumnya, Indonesia berpotensi kebanjiran bahan baku plastik dari UEA. Sebab, rencana penurunan bea masuk komoditas itu ke RI diprediksi bisa mendongkrak impor bahan baku plastik dari UEA sekitar 50 persen.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiyono mengatakan Indonesia saat ini mengimpor bahan baku plastik jenis polyethylene dan polipropilena dari UEA sebanyak 17.000 ton per bulan.

Kedua jenis bahan baku plastik itu, polyethylene dan polipropilena, disebut menjadi 2 pos tarif yang diincar UEA dalam perundingan Indonesia - UEA Comprehensive Economic Partnership Agreement/IUEA - CEPA.

"Dengan murahnya bea masuk bahan baku plastik serta harga jual yang sama, mereka bisa meningkatkan volume ekspor dari 17.000 ton menjadi 25.000 ton per bulan," ujar kepada Bisnis, Rabu (8/6/2022).

Menurutnya, polyethylene dan polipropilena merupakan 2 jenis bahan baku plastik dengan porsi konsumsi terbesar di Tanah Air, yakni sekitar 3 juta ton per tahun. Total konsumsi bahan baku plastik nasional sekitar 7 juta ton per tahun.

Untuk polyethylene, kebutuhan konsumsi di Indonesia sebesar 1,4 juta ton per tahun dengan kemampuan produksi tahunan sebanyak 1,05 juta ton.

Sementara itu, kebutuhan konsumsi polipropilena di Indonesia mencapai 1,6 juta per tahun dengan jumlah produksi tahunan sebanyak 870.000 ton.

Dengan asumsi bahwa penurunan bea masuk akan menambah impor bahan baku plastik jenis polyethylene dan polipropilena dari UEA, maka industri petrokimia dalam negeri akan banjir oleh sekitar 300.000 ton kedua komoditas dari UEA itu setiap tahunnya.

Belum lama ini, Indonesia dan UEA melaksanakan perundingan Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Emirat Arab (IUAE-CEPA). UEA berencana mengajukan opsi penurunan bea masuk untuk bahan baku plastik. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

petrokimia plastik pabrik petrokimia industri petrokimia industri plastik emiten petrokimia IUEA-CEPA
Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top