Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Takut Banget Lho! Risiko Stagflasi Kembali Hantui Global

Stagflasi adalah inflasi dalam tingkat tinggi yang bertahan selama periode tertentu. Stagflasi muncul akibat melejitnya harga barang, terhambatnya pertumbuhan ekonomi, serta meningkatnya angka pengangguran sehingga berisiko pada mogoknya mesin di pasar keuangan.
Karyawan menata buah yang di pajang di salah satu super market di Jakarta, Rabu (9/9/2020). Bisnis/Abdullah Azzam
Karyawan menata buah yang di pajang di salah satu super market di Jakarta, Rabu (9/9/2020). Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Kekhawatiran yang saat ini muncul di benak pelaku usaha adalah risiko stagflasi, atau inflasi dalam tingkat tinggi yang bertahan selama periode tertentu.

Stagflasi muncul akibat melejitnya harga barang, terhambatnya pertumbuhan ekonomi, serta meningkatnya angka pengangguran sehingga berisiko pada mogoknya mesin di pasar keuangan.

Hal ini pun menjadi perhatian oleh negara-negara G7 yang melakukan pertemuan di Jerman, beberapa waktu lalu. Dalam pernyataan bersama, para menteri G7 menyatakan bahwa perang Rusia di Ukraina menyebabkan gangguan ekonomi di seluruh negara di dunia.

Tak hanya itu, invasi yang dilancarkan Rusia sejak akhir Februari 2022 juga berdampak pada keamanan pasokan energi, serta berimplikasi pada terhambatnya produksi dan ekspor komoditas pangan serta pertanian.

Dalam kaitan ini, Analis Bloomberg Economics Chang Shu mengatakan, prospek ekonomi kian suram tatkala ekonomi China diperkirakan tumbuh amat lambat dibandingkan dengan estimasi sebelumnya akibat kebijakan lockdown.

“Data aktivitas April menunjukkan penguncian di China telah mengambil korban yang jauh lebih berat,” kata Shu, dikutip Bloomberg.

Di sisi lain, pengetatan kebijakan moneter oleh sejumlah bank sentral di negara utama makin meningkatkan kecemasan pelaku usaha. Di antaranya Bank Sentral AS, Seladia Baru, hingga Korea Selatan.

Di Jerman, yang merupakan pusat manufaktur Benua Biru, optimisme pebisnis diprediksi tergerus pada Mei tahun ini yang merefleksikan adanya penurunan indeks manajer pembelian.

Melonjaknya biaya hidup di tengah krisis energi dan pangan menjadi kekhawatiran utama pelaku usaha di negara tersebut.

Terlebih Jerman juga berkutat pada dinamika pasoka gas yang selama ini mengandalkan Rusia. Adapun di Inggris, kekhawatiran resesi tak kalah tinggi akibat terbatasnya pendapatan yang diterima pekerja serta makin mahalnya biaya hidup.

Gubernur Bank of England (BOE) Andrew Bailey bahkan memperingatkan bahwa ekonomi berpotensi mengalami apokaliptik akibat melejitnya harga makanan di banyak negara.

Selain harga pangan, Inggris juga menjadi sati-satunya negara G7 yang mengalami penurunan investasi. Merespons kesulitan ini, Menteri Keuangan Rishi Sunak menyiapkan pemangkasan tarif pajak dalam rangka menarik minat investor.

Kendati kebijakan ini tidak berkorelasi langsung dengan pengendalian harga makanan dan energi, sejumlah pelaku usaha menilai penurunan tarif pajak menjadi sentimen positif bagi negara tersebut.

Mantan Chief Executive Officer (CEO) BP Plc. John Browne mengatakan insentif ini merupakan stimulus yang diutuhkan dunia usaha untuk menggerakkan bisnis, termasuk melakukan penelitian dan pengembangan.

“Kebijakan yang sangat bagus, karena selama ini industri menghabiskan cukup banyak pengeluaran untuk membayar pemerintah,” ujarnya.

Inflasi Masalah Serius

Dilansir oleh Channel News Asia yang mengutip Nikkei Asia, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong mengatakan inflasi akan menjadi masalah yang sangat serius bagi dunia jika tidak ada tindakan untuk mengatasinya.

Dia menegaskan kesulitannya adalah bahwa sekarang inflasi cukup tinggi, dan kondisi ini memerlukan tindakan yang cukup drastis untuk menurunkannya kembali dan untuk mencegah ekspektasi inflasi berakar.

“Sangat sulit untuk melakukan itu dan memiliki soft landing. Ada risiko besar jika Anda melakukan apa yang perlu Anda lakukan, tetapi hasilnya memicu resesi.”

Menurutnya, inflasi terjadi berulang kali di tahun 60-an, 70-an, 80-an, 90-an. "Nah, itulah resiko yang harus kita antisipasi dan waspadai."

Inflasi di banyak negara telah melonjak ke level tertinggi multi-tahun, didorong oleh rebound dalam aktivitas ekonomi dan gangguan rantai pasokan lebih lanjut.

Kondisi serupa tak terelakkan di Indonesia. Sri Mulyani menyebut bahwa inflasi Indonesia berpotensi terus merangkak naik mendekati 4 persen. "Inflasi akan upper end, dari proyeksi 3±1 persen, dia cenderung akan dekat ke 4 persen.

Sekarang [April 2022] sudah 3,7 persen YoY [year-on-year]," ujar Sri Mulyani pada Kamis (19/5/2022).

Sri Mulyani menyebut bahwa tingginya inflasi yang sejalan dengan kenaikan suku bunga akan menekan pertumbuhan ekonomi pada semester II/2022. Namun, dia meyakini bahwa konsolidasi fiskal dapat tetap berjalan.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper