Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Impor Mesin dan Peralatan Lesu, Apindo Benarkan Pengusaha Lagi Was-was

Salah satu yang membuat pengusaha khawatir adalah perang Rusia-Ukraina belum menemukan titik temu. Konflik itu akan membuat ketidakpastian global.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 17 Mei 2022  |  16:17 WIB
Ilustrasi Manufaktur
Ilustrasi Manufaktur

Bisnis.com, JAKARTA- Penurunan nilai impor sektor non migas yang dikontribusi oleh importasi mesin dan peralatan dikhawatirkan menjadi sinyal awal melesunya sektor manufaktur dalam negeri.

Ketua Bidang Industri Manufaktur Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Johnny Darmawan mengatakan sektor manufaktur berpotensi lesu akibat dampak perang Rusia - Ukraina yang diperkirakan sampai ke Indonesia sekitar 3 bulan sejak perang berlangsung.

"Pengusaha khawatir dengan perang Rusia - Ukraine. Sebab, di Indonesia belum terasa dampak beratnya. Berdasarkan pengamatan saya, dampak dari perang yang mulai ramai sejak Februari [2022] itu baru akan terasa 3 bulan sejak perang terjadi," kata Johnny kepada Bisnis, Selasa (17/5/2022).

Menurutnya, Perang antara Rusia dan Ukraina memperlambat lalu lintas barang sehingga berpengaruh terhadap penurunan impor. Selain itu, perang tersebut juga berpotensi memberikan dampak negatif investasi di sektor manufaktur.

Hari ini, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan terjadi penurunan impor pada April 2022 sebesar 10,01 persen secara month-to-month (mtm). Turun senilai US$2.198,7 juta sehingga total impor nasional April 2022 senilai US$19.763,7.

Penurunan impor dikontribusi oleh sektor non migas dengan nilai mencapai US$15.949,8 juta atau turun 13,65 persen dibandingkan dengan bulan Maret 2022.

Mesin dan peralatan menjadi penyumbangberkontribusi terhadap lesunya impor non migas RI pada periode April 2022 yang turun 17,68 persen mtm dengan nilai total US$483,4 juta.

Sementara itu, pada Maret 2022 nilai impor mesin/peralatan mekanis dan bagiannya mencapai sekitar US$568,86 juta. Keduanya memiliki kontribusi terhadap pangsa pasar impor nonmigas Indonesia sebesar 3,03 persen secara keluruhan.

Selain itu, ekspansi di sektor manufaktur Indonesia yang tercatat lebih cepat pada April 2022 tidak serta merta menutup kemungkinan terjadinya kelesuan

Sebab, masih ada gangguan pasokan serta waktu pemenuhan pesanan input kembali diperpanjang. Tekanan terhadap sektor manufaktur dikatakan juga masih sangat terasa pada April 2022.

Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia dari S&P Global tercatat di posisi 51,9 pada bulan April 2022,naik dari 51,3 pada Maret 2022.

Selain itu, beberapa perusahaan melaporkan perang di Ukraina telah membebani total bisnis baru dari luar negeri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top