Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Inflasi AS Masih Tinggi, Suku Bunga The Fed Jadi Naik 50 BPS Juni dan Juli?

Departemen Tenaga Kerja AS mencatat Indeks Harga konsumen (IHK) AS naik 8,3 persen pada April dari periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 11 Mei 2022  |  23:14 WIB
Logo bank central Amerika Serikat atau The Federal Reserve di Washington, Amerika Serikat, Minggu (19/12/2021). Bloomberg - Samuel Corum
Logo bank central Amerika Serikat atau The Federal Reserve di Washington, Amerika Serikat, Minggu (19/12/2021). Bloomberg - Samuel Corum

Bisnis.com, JAKARTA - Tingkat inflasi AS menyentuh level 8,3 persen pada bulan April 2022. Pejabat Federal Reserve pun memperkuat perkataan Gubernur Jerome Powell terkait dengan kenaikan 50 basis poin pada Juni dan Juli, serta kemungkinan 75 basis poin pada akhir tahun.

Dilansir Bloomberg, Departemen Tenaga Kerja AS mencatat Indeks Harga konsumen (IHK) AS naik 8,3 persen pada April dari periode sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 8,5 persen, namun masih tinggi dalam beberapa dekade terakhir.

IHK inti, yang tidak termasuk makanan dan energi, meningkat 0,6 persen dari bulan Maret dan 6,2 yoy, menurut data yang dirilis Rabu (11/5/2022). Beberapa kontributor terbesar terhadap kenaikan IHK termasuk tempat tinggal, makanan, tiket pesawat dan kendaraan baru.

IHK inti melampaui semua perkiraan dalam survei ekonom Bloomberg yang memiliki proyeksi median 0,4 persen.

Sementara itu, Presiden The Fed Cleveland Loretta Mester mengatakan bahwa pejabat The Fed tidak mengesampingkan kenaikan suku bunga sebesar 75 basis poin jika inflasi masih bertahan tinggi.

“Ketika kami mencapai titik itu pada paruh kedua tahun ini, jika inflasi tidak turun, maka kami mungkin harus mempercepatnya [kenaikan suku bunga],” ungkap Mester seperti dilansir Bloomberg, Rabu (11/5/2022).

Seperti diberitakan sebelumnya, The Fed telah menaikkan suku bunga acuan 0,5 persen pada pekan lalu, menjadi kenaikan tertinggi sejak 2000. Powell mengatakan tindakan serupa tengah didiskusikan untuk dua pertemuan selanjutnya.

Para pejabat bank sentral AS juga telah mengumumkan alan mengurangi neraca keuangan yang senilai US$9 triliun pada 1 Juni yang akan naik menjadi US$95 miliar per bulan dengan cepat.

Sebelumnya, Mester menyebut kepada Yahoo! Finance bahwa kenaikan suku bunga 0,5 persen dalam dua pertemuan adalah tindakan masuk akal untuk melawan inflasi.

Hal itu ditambah dengan Gubernur The New York John Williams yang juga mengungkapkan bahwa The Fed akan mengurangi neraca keuangan dalam waktu yang bersamaan.

"Itu berarti kami benar-benar menghapus akomodasi dengan cukup cepat melalui saluran itu. Dan itu memberi kami sedikit ruang untuk bergerak seperti kenaikan 50 basis poin pada beberapa pertemuan berikutnya,” katanya kepada media di Eltville, Jerman.

Akibat itu, pasar keuangan berayun keras karena investor bertaruh pada kemampuan bank sentral AS untuk mendinginkan inflasi terpanas dalam 40 tahun tanpa menghancurkan ekonomi.

Para pembuat kebijakan mengungkapkan optimismenya dengan mengatakan tekanan harga akan melonggar dengan mulus.

"Saya tidak akan mendefinisikan pendaratan yang mulus sebagai pengangguran yang bertahan di level 3,6 persen, [tetapi] mempertahankan pasar tenaga kerja yang sehat dan kuat dengan inflasi yang menurun," kata Williams.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi as Inflasi federal reserve the fed rate the fed
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top