Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Covid-19 Melandai, Begini Prospek Industri Jamu Tahun Depan

Industri jamu yang masuk kelompok kimia, farmasi, dan obat tradisional, tumbuh signifikan selama masa pandemi didorong permintaan yang tinggi. Pada kuartal III/2021 saja, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional mencatatkan kenaikan 9,71 persen secara year-on-year.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 19 November 2021  |  15:30 WIB
Pekerja memilah sachet Tolak Angin di bagian pengemasan pabrik PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) di Semarang, Jawa Tengah, Indonesia, Senin (10/2/2014).  - Bloomberg/Dimas Ardian
Pekerja memilah sachet Tolak Angin di bagian pengemasan pabrik PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) di Semarang, Jawa Tengah, Indonesia, Senin (10/2/2014). - Bloomberg/Dimas Ardian

Bisnis.com, JAKARTA — Gabungan Pengusaha (GP) Jamu menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 10 persen pada tahun depan meski di tengah tren penurunan kasus Covid-19 di Indonesia.

Ketua Umum GP Jamu Dwi Ranny Pertiwi meyakini industri ini akan tetap prospektif pada 2022 karena pandemi justru memunculkan kesadaran masyarakat akan manfaat jamu bagi kesehatan.  

"Kami menargetkan pertumbuhan sekitar 10 persen karena masyarakat saat ini sudah semakin banyak yang menjadikan jamu dan obat tradisional sebagai upaya preventif selama pandemi ini," kata Rany kepada Bisnis, Jumat (19/11/2021).

Selain itu, prospek pertumbuhan yang positif juga didorong menjamurnya cafe yang menyediakan jamu. Hal itu diyakini akan semakin meningkatkan konsumsi jamu pada masa mendatang.

Produsen jamu juga terus melakukan inovasi produk dengan mengikuti kebutuhan konsumen terutama bagi kalangan yang penetrasi konsumsi jamunya masih rendah, seperti milenial dan Gen Z.

"Masyarakat semakin menyukai cita rasa jamu dan itu bagus untuk pertumbuhan industri jamu," lanjutnya.

Namun, untuk meraup potensi pertumbuhan tersebut, industri dihadapkan pada sejumlah tantangan, antara lain ketersediaan dan kualitas sumber daya manusia. Kapasitas permodalan pabrikan, terutama industri kecil menengah (IKM) juga menjadi kendala.
 Adapun di sisi eksternal, maraknya jamu berkomposisi bahan kimia obat (BKO) menurunkan citra jamu dan otomatis merugikan industri.

"Selain itu, adanya perubahan pasar dari offline ke online, itu juga cukup berpengaruh apalagi bagi industri kecil yang masih banyak belum menguasai cara berjualan dengan online," katanya.

Industri jamu yang masuk kelompok kimia, farmasi, dan obat tradisional, tumbuh signifikan selama masa pandemi didorong permintaan yang tinggi. Pada kuartal III/2021 saja, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional mencatatkan kenaikan 9,71 persen secara year-on-year.

Sebelumnya, pertumbuhan industri tercatat 9,15 persen pada kuartal II/2021 dan 11,46 persen pada triwulan pertama tahun ini.

Data Badan Pusat Statistik juga menunjukkan adanya penurunan yang cukup signifikan untuk importasi produk farmasi dalam kode HS 30, yakni sebesar US$163,2 juta pada Oktober 2021, dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Penurunan kasus Covid-19 ditengarai menyebabkan terpangkasnya impor produk-produk antivirus yang sebagian besar masih merupakan obat paten. 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur jamu Covid-19
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top