Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Krisis Energi di Eropa Jadi Pelajaran untuk Percepat Transisi ke EBT

Krisis energi di Eropa dinilai dapat menjadi pelajaran bagi banyak negara, terutama Indonesia untuk menjaga ketahanan energi dengan cara mengurangi ketergantungan pada pasar energi fosil dan mempersiapkan secara matang transisi ke energi baru terbarukan (EBT).
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 11 Oktober 2021  |  20:38 WIB
 Pembangkit listrik tenaga bayu. - Istimewa
Pembangkit listrik tenaga bayu. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Krisis energi di Eropa dinilai dapat menjadi pelajaran bagi banyak negara, terutama Indonesia untuk menjaga ketahanan energi dengan cara mengurangi ketergantungan pada pasar energi fosil dan mempersiapkan secara matang transisi ke energi baru terbarukan (EBT).

Director Economic Consulting Associates (ECA) UK William Derbyshire menjelaskan bahwa ketergantungan Inggris terhadap energi fosil tercermin pada bauran pembangkit listriknya yang menempatkan porsi gas sebanyak 42 persen.

Sementara itu, untuk energi terbarukan hanya didominasi oleh Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) dengan porsi sebesar 16 persen.

“Jika krisis energi yang terjadi disebabkan oleh melonjaknya harga energi fosil, maka solusinya adalah melepas ketergantungan dari energi fosil dan beralih ke energi bersih,” katanya saat webinar Energy Crisis in UK and Europe: Lesson learned for Indonesia Energy’s Transition, Senin, (11/10/2021).

PLTB menjadi andalan Inggris untuk menghasilkan listrik dari pembangkit energi terbarukan. Namun PLTB sendiri mempunyai variabilitas yang tinggi, meskipun dapat diprediksi dari catatan historis pola dan kecepatan angin di suatu titik tertentu.

Managing Director Aquatera Gareth Davies menilai, variabilitas tersebut sebenarnya dapat dikurangi jika bisa mengidentifikasi wilayah baru dengan kecepatan angin tinggi dan membangun pembangkit baru di lokasi tersebut.

“Dengan mendistribusikan produksi [tenaga angin] di wilayah geografis yang luas, akan dapat membantu meningkatkan ketahanan energi dan menyimbangkan pasokan energi Inggris,” katanya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menegaskan bahwa volatilitas harga energi primer, yakni energi fosil merupakan benang merah dari meluasnya krisis energi.

“Perlu diingat bahwa krisis energi yang terjadi saat ini merupakan krisis energi fosil. Volatilitas harga energi fosil sangat tinggi. Kenaikan harga masing-masing energi fosil saling mempengaruhi,” tegasnya.

Fabby menjelaskan bahwa krisis energi memberikan pelajaran bagi Indonesia untuk  mempercepat transisi menuju energi terbarukan.

Menurutnya, cadangan energi terbarukan di Indonesia yang melimpah menjadi kekuatan untuk berpindah dari energi fosil.

Selain itu, Fabby menambahkan bahwa untuk melepas ketergantungan bertumpu pada satu sumber energi saja, Indonesia perlu melakukan diversifikasi pasokan energi dan meningkatkan efisiensi.

“Meningkatkan bauran energi terbarukan juga harus memikirkan penyimpanan energi dalam durasi waktu yang lama. Interkoneksi antarpulau dibutuhkan untuk mengatasi perbedaan permintaan. Selanjutnya, dalam perencanaan peta jalan transisi energi, perlu pula menyiapkan instrumen safeguard untuk melindungi akses energi bagi keluarga miskin,” tuturnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

energi baru terbarukan energi fosil Krisis Energi
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top