Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kajian Bappenas: Net-zero Emission Paling Optimal Dicapai 2060

Bappenas memiliki beberapa opsi skenario mencapai net-zero emission, yakni tahun 2045, 2050, 2060, dan 2070.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 24 Agustus 2021  |  18:25 WIB
Beberapa produsen minyak terbesar di Eropa saat ini tengah fokus untuk meningkatkan bauran energi hijau dalam portofolio bisnis mereka.  - Vattenfall
Beberapa produsen minyak terbesar di Eropa saat ini tengah fokus untuk meningkatkan bauran energi hijau dalam portofolio bisnis mereka. - Vattenfall

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyampaikan bahwa skenario net-zero emission atau emisi nol bersih di Indonesia paling optimal dicapai pada 2060.

Direktur Ketenagalistrikan, Telekomunikasi dan Informatika Kementerian PPN/Bappenas Rachmat Mardiana mengatakan, pihaknya telah menyiapkan beberapa opsi tahun skenario di mana net-zero emission akan dicapai, yakni pada 2045, 2050, 2060, dan 2070.

"Nanti masih berkembang mengenai opsi-opsi net zero. Namun, sampai dengan saat ini kajian yang paling optimum itu ada di 2060," ujar Rachmat dalam sebuah webinar, Selasa (24/8/2021).

Terkait sektor energi, ada beberapa strategi dan kebijakan yang disusun untuk mencapai skenario net zero emission pada 2060. Strategi yang akan menjadi fokus antara lain, penurunan intensitas energi atau efisiensi energi secara bertahap dari 1 persen hingga 6 persen pada 2030, pengembangan energi baru terbarukan (EBT ) hingga mendekati 100 persen pada 2060, dan transisi ke kendaraan listrik hingga 95 persen dari total kendaraan yang digunakan di 2055.

Selain itu, subsidi energi, baik BBM, gas, maupun listrik akan dihapus hingga sepenuhnya di 2030. Penggunaan batu bara juga diharapkan turun hingga nol pada 2060 di semua sektor.

"Penghentian penggunaan batu bara kalau dilihat dari komitmen-komitmen pembangkitan tentunya yang akan dibangun, ini diharapkan di 2055 atau 2060 itu sudah selesai kontraknya," kata Rachmat.

Sementara itu, Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai sektor energi Indonesia mampu mencapai nol emisi karbon lebih cepat, yakni di 2050.

"Studi kami menjadikan ada empat pilar utama menuju dekarbonisasi sektor energi, yakni energi terbarukan, elektrifikasi di sektor transportasi dan industri, penurunan energi fosil, dan bahan bakar bersih," kata Koordinator Riset IESR Pamela Simamora.

Berdasarkan studi IESR, untuk mulai menurunkan emisi gas rumah kaca, Indonesia perlu memasang sekitar 140 gigawatt (GW) energi terbarukan pada 2030, sekitar 80 persen merupakan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Selain itu, penjualan mobil listrik dan sepeda motor listrik perlu ditingkatkan masing-masing menjadi 2,9 juta unit dan 94,5 juta unit pada 2030. Hal terpenting lainnya, PLN perlu menghentikan pembangunan PLTU pada 2025.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

energi terbarukan emisi karbon
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top