Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekonomi Mulai Pulih, Industri Karet Ketiban Berkah

Pulihnya perekonomian sejumlah negara maju, salah satunya China, menjadi pendoro positif terhadap industri karet Indonesia.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 06 Januari 2021  |  16:48 WIB
Ilustrasi karet ban
Ilustrasi karet ban

Bisnis.com, JAKARTA – Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) menyatakan kondisi industri karet awal 2021 mendapatkan berkah pemulihan ekonomi dari pandemi Covid-19.

Dampak dari penyakit gugur daun karet (GDK) dan pemulihan sektor manufaktur di China dinilai menjadi pendorongnya.  

Ketua Umum Dekarindo Azis Pane menyatakan permintaan pada Januari 2021 telah naik sekitar 5-6 persen dari kondisi normal. Azis menduga hal tersebut disebabkan oleh naiknya permintaan ban dari Negeri Panda sekitar 5-10 persen pada awal tahun. 

"Artinya, industri otomotif di China sudah mulai bagus. Di dalam negeri baru [industri] sepeda motor yang bagus, tapi [permintaan dari kendaraan] roda empat belum seperti yang diharapkan," katanya kepada Bisnis, Rabu (6/1/2021). 

Selain perbaikan permintaan, pasokan karet alam yang turun akibat penyakit GDK membuat harga karet di petani membaik. Azis mencatat volume produksi karet alam di negara penghasil karet pada kuartal IV/2020 turun sekitar 2,04 persen secara tahunan. 

Menurutnya, volume produksi karet alam nasional turun paling rendah atau minus 1,8 persen secara tahunan menjadi sekitar 707.000 ton. Penurunan volume produksi terbesar terjadi di Malaysia, yakni merosot 4,37 persen ke kisaran 153.000 ton. 

Volume produksi karet alam Thailand merosot 2,98 persen menjadi 1,23 juta ton. Di samping itu, hanya India yang mencatatkan pertumbuhan positif atau sebesar 0,85 persen menjadi 235.000 ton. 

Azis mengatakan terkoreksinya pasokan karet dunia tersebut membuat harga karet tumbuh. Azis mendata harga karet dengan sertifikat Standard Indonesian Rubber (SIR) 20 naik hingga 28 persen menjadi sekitar US$1,6 per kg. 

Sementara itu, harga getah karet atau lateks naik sekitar 22,82 persen ke kisaran US$2,7 per kg. Seperti diketahui, lateks merupakan bahan baku untuk memproduksi sarung tangan karet dan berbagai produk alat kesehatan. 

"Yang bikin harga [karet alam] turun selama ini adalah oversupply. Ternyata, begitu [volume produksi] turun, harganya mulai meningkat," ucapnya. 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china industri karet pemulihan ekonomi
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top